Minggu, 08 Juni 2014

PENYESALAN PEMUDA PENGGODA


Siapa yang tidak kenal dengan Syekh Hasan Al Bashri atau lebih di kenal dengan Hasan Basri saja. Beliau masuk dalam jajaran ulama - ulama salaf yang paling terkenal hingga zaman sekarang ini . Fatwa-fatwanya banyak di ikuti orang dan nasehatnya selalu ditunggu-tunggu. Namun siapakan yang tahu latar belakang hidupnya?. Pasti tidak ada yang mengira bahwa masa mudanya Hasan Basri terkenal sebagai pemuda nakal dan suka menggoda wanita. Kisah ini dimuat dengan maksud menjadikan pelajaraan, bahwa siapapun dia serta bagaimanapun kejahatannya, jika ia telah mempunyai tekat bertaubat serta menyesali perbuatan-perbuatan amoralnya dimasa lalu, pasti Allah memberi ampunan. Karena ampunan Allah lebih luas dari samudra buatanNYA.
Diceritakan oleh Abi Nasr As-Samarkandy, bahwa sewaktu mudanya, Syekh Hasan Bashri adalah seorang pemuda yang berwajah rupawan. Banyak sekali gadis-gadis yang terpikat oleh ketampanan wajahnya. Apalagi ditunjang dengan penampilan Hasan Basri yang bersih dan rapi.
Salah satu kegemaran Hasan adalah berjalan dengan mengendarai kudanya yang perkasa mengelilingi kampung-kampung yang ada dipinggiran kota Bashra. Terkadang pula ia berjalan kaki sendirian tanpa pengawal. Tak seorangpun yang mengetahui isi hati Hasan, mengapa ia mempunyai hobi yang seperti itu.
Suatu ketika di hari yang cerah, Hasan seperti biasanya berjalan menelusuri kampungnya tanpa di temani siapapun. Pada saat ia sedang berlenggang kangkung tiba-tiba pandangan matanya terantuk pada seorang gadis cantik yang berjalan dengan lemah gemulai. Dalam pandangan mata Hasan, gadis itu benar - benar sangat menggairahkan. Kali ini Hasan benar - benar terpukau oleh pesona kecantikan gadis yang kelihatannya berjalan sendirian tanpa teman itu. Maka timbulah niat dalam hati Hasan untuk membuntutinya.
Gadis itu merasa bahwa ia sedang dibuntuti oleh seorang pemuda. Seketika itu juga ia langsung menegurnya : ”Hai pemuda! apakah engkau tidak merasa malu ?”.
Jawab Hasan : ”Malu pada siapa?....disini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua !”.
Sang gadis berkata lagi: ”Tentu malu pada Allah, sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui setiap kesaksian mata, juga Maha Mengetahuiatas apa yang terlintas dalam setiap hati manusia !”.
Namun rupanya Hasan benar - benar telah kasmaran dengan gadis itu hingga ia tidak memperdulikan tegurannya. Rasa-rasanya ia tidak bisa lagi menahan gejolak hatinya, maka Hasan terus saja membuntutinya.
Melihat kenekadan Hasan, sang gadis kembali menegurnya: ”Hai pemuda! Mengapa engkau masih saja membuntuti langkahku?”.
Hasan menjawab:”Sungguh aku telah terpesona dengan lirikan matamu !”.
Kata gadis itu lagi:”Kalau demikian yang engkau inginkan, baiklah......tunggu saja disini. Aku pulang sebentar, pasti engkau akan mendapatkan apa yang engkau inginkan !”.
Hati Hasan berbunga - bunga mendengar janji gadis itu. Ia meyakinkan dirinya bahwa cintanya kepada gadis itu tidak akan bertepuk sebelah tangan. Hasan pun duduk sambil menunggu kedatangan gadis pujaan hatinya. Namun setelah lama menunggu yang muncul bukanlah gadis dambaannya, melainkan seorang pelayan utusan gadis itu yang datang dengan membawa nampan dalam keadaan tertutup. Kemudian nampan itu di serahkan kepada Hasan sambil berkata: ” Inilah yang tuan ingikan dari gadis tadi !”.
Meskipun heran, Hasan tidak berkomentar. Di terimanya nampan itu, lalu dibukanya. Hampir saja Hasan terjatuh karena terkejutnya ..... Ternyata nampan yang tengah di pegangnya berisi biji mata yang masih di lumuri darah segar. Kelihatan kalau biji mata itu baru saja di congkel dari kelopaknya. Lalu Ia memandang utusan sang gadis denag penuh tanda tanya. Maka pelayan itu berkata :” Tuan putriku juga berpesan, ia tidak ingin lirikan matanya menyebabkan orang lain berbuatmaksiat !”.
Sekali lagi pukulan keras menghantam batin Hasan. Perkataan pelayan itu bagaikan petir di siang bolong yang mampir ditelinganya Hasan ketika mendengar penjelasan si pelayan. Tindakan yang sama sekali tidak terlintas dalam pikiran Hasan.
Tiba-tiba seluruh tulang persendiannya lunglai, badannya gemetar dan bulu kuduknya merinding tak karuan. Tak sepatah katapun yang mampu digerakkan untuk mengelus-elus jenggotya yang selalu rapi itu. Tak terasa dari mulutnya keluar umpatan untuk dirinya sendiri: ”Celakalah engkau wahai Hasan! Sungguh engkau tidak mempunyai rasa malumu itu...cobalah bercermin pad akhlak gadis itu yang sangat berhati-hati dalam menjaga agamanya!”.
Segumpal menyesalan akhirnya membuncah dalam sanubarinya. Hasan pulang kerumahnya dengan hati yang resah. Sepanjang jalan ia menangis karena penyesalan yang begitu dalam. Tak pernah dilakukan sepanjang hidupnya oleh Hasan, menangisi diri sendiri seperti ini.
Di rumahpun Hasan tak sekejap pun bisa memejamkan matanya. Sepanjang malam hanya ratapan dan tangisan yang terdengar dari rumah Hasan. Bola mata berlumuran darah yang teronggok dalam nampan tak pernah bisa hilang dari pelupuk matanya. Tak terbayangkan bagaimana perasaan yang sedang berkecamuk di benak Hasan saat ini. Mata indah milik gadis cantik yang belum lama ia kagumi karena pesona lirikan matanya, kini tergeletak tak berharga pada sebuah nampan . Apa yang terjadi pada gadis itu sekarang? Apakah ia telah meninggal dunia akibat di congkel matanya? Rasanya tak tertebus dengan apapun kesalahan Hasan yang mula-mula menggodanya, hingga terjadi musibah seperti ini pada gadis cantik itu.
Setelah semalaman tidak dapat memicingkan matanya sedikitpun, pagi harinya ia bermaksud untuk berminta maaf kepada gadis itu atas kebodohannya, yang telah menurutkan hawa nafsu setan.
Ketika tiba didepan rumahnya. Hasan tertegun, karena pintu rumah gadis itu tertutup rapat . Dari dalam hanya terdengar tangisan pilu para wanita, yang mungkin menangisi nasib gadis tadi.: ”Oh............sudah meninggalkan dia ?” kata Hasan dalam hati.
Pada akhirnya ia mencari informasi mengenai kejadian apa yang terjadi di rumah gadis itu kepada orang-orang yang ada di sekitar rumah gadis itu. Hasan akhirnya mendapat informasi bahwa gadis tersebut telah meninggal dunia .......
Tak kuat menahan keterkejutannya, Hasan berlari pulang menuju rumahnya. Kesedihan dan penyesalannya yang begitu dalam membuat dadanya terasa semakin sesak utuk bernafas. Sementara air matanya mengucur deras dari pelupuk matanya. Rasanya tak kuat menanggung dosa, karena dialah penyebab kemetian gadis itu. Dialah yang telah mecelakainya. Tiga hari lamanya Hasan Bashri mengurung diri dalam kamar Ia meratapi dosa-dosanya terhadap gadis itu.
Pada malam ketiga ia mengurung diri dalam kamarnya ,ia bermimpi .Dalam mimpinya ia melihat gadis itu dalam keadaan sehat wal ’afiat. Tidak terlihat cacat sedikitpun diwajahnya. Apalagi dikedua matanya bahkan gadis itu kelihatan lebih cantik dan menggairahkan daripada yang pernah dilihat Hasan sebelumnya .Ia tampak amat berbahagia.
Lalu Hasan Bashri mencoba menyapa gadis itu dengan wajah yang ketakutan :”Wahai nona!aku mohon dengan sangat, sudilah kiranya nona memaafkan segala perbuatan bodohku kepadamu !”. Jawab sang gadis :” Wahai Hasan Bashri ! kekhilafanmu telah aku maafkan. Berbakat per-buatanmu itu, justru kini aku mendapatkan kenikmatan besar di sisi Allah !”.
Kata Hasan Bashri :” Kalau begitu, tolong nasehatilah aku dengan nasehat yang bermanfaat bagiku !”. Sang gadis menjawab :”Senantiasalah berdzikir kepada Allah , meskipun engkau sedang sendiri. Bertaubatlah kepada Allah, dan beristighfarlah pada setiap hari pagi dan petang !”.
Hasan Bashri benar – benar melaksanakan nasehat gadis itu sebagai realisasi terhadap penyesalannya. Ia bertaubat dengan sepenuh hati, sehingga siang dan malam waktunya hanya diperuntukan beribadah kepada Allah. Disamping itu ia juga gemar menimba ilmu dari berbagai guru untuk menutupi kebodohan yang pernah di lakukannya
Keikhlasnnya menghambakan diri kepada Allah secara istikomah, menjadikan beberapa waktu kemudian Hasan telah terkenal sebagai ulama’ besar dalam bidang tasawuf dan ahli fiqih. Di sisi Allah Hasan menjadi orang yang mulia. Setelah menjadi ulama’ besar, Hasan terkenal dengan sebutan Syekh Hasan Bashri, karena ia berasal dari kota Bashrah. Semoga Allah selalu merahmatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar