Jleper : 1434 Hijriah
by : arief poll
Hari Rayaku tak pernah pergi Hari raya
mereka segera pergi." Kutipan sajak Imam
As-Syibli. tokoh sufi abad ke-6 Hijriah
As-Syibli hendak mengatakan bahwa inti
dari hari raya adlh kebahagiaannya, bukan
atribut perayaannya.
Tentu saja yang dimaksud kebahagiaan di
sini adalah kebahagiaan sejati, yakni pada saat
seseorang dekat dengan Allah.
Oleh karena itu, Imam al-Hasan al-
Bashri mengatakan." Setiap hari yang tidak
digunakan tuk kedurhakaan maka itu adalah
hari raya.
Banyak syair arab yang digubah mengenai
hari raya yang intinya adalah menggugah kita
tuk memahami hari raya secara esensial,
bukan hanya kulit.
Hari raya bisa disebut sebagai bagian dari
fitrah sosial manusia. karenanya, hampir
semua komunitas sosial atau agama
memiliki hari raya.
Ada sumber yang menyebutkan bahwa
penghancuran Berhala yang dilakukan Nabi
Ibrahim terjadi pada saat kaumnya merayakan
hari raya
Berarti, 2000 th Sebelum masehi umat
manusia sudah memiliki tradisi itu ada jauh
sebelum itu.
Dalam bahasa Arab hari raya disebut "I'D"
kata ini bermakna ,"kembali."
Ibn Asyur memberikan definisi, Id adalah
hari yang terulang/kembali dalam tiap tahun tuk
mengingat nikmat/peristiwa yang menjadi pd hari
itu.
Mengingat nikmat peristiwa itu
dilakukan semata-mata untuk bahan
perenungan sejati, bukan sekedar
seremonial tanpa arti.
Orang Arab juga sering menggunakan
kata I'd tuk menyebut hari yang digunakan
sebagai momen perkumpulan atau
perayaan.
Dalam al-Qur'an kata I'd disebut dalam kisah
permohonan Nabi Isa kpd Allah tuk
menurunkan hidangan dari langit.
Hari turunnya hidangan dari langit itu
menjadi hari raya bagi umat beliau yang hidup
pada masa itu atau setelahnya. (Qs al-Maidah :114).
Maksudnya hari itu akan menjadi hari
yang dikenang Oleh umat manusia sehingga jadi
momen syukur/renungan bagi mereka.
Pada dasarnya hari raya memang
merupakan yaumul-farah was-surur (hari gembira/bahagia).
Imam al-Ghazali menyatakan dalam kitab Ihya.
Rasulullah menoleransi beberapa bentuk ekspresi
kegembiraan (hiburan) pada saat hari raya.
Misalnya, nyanyian, tarian Habasyah dan
penabuhan rebana. Sebagaimana pula lagu
Thala'al Badru & iringan musik rebana
Namun, makna hari raya dalam islam
tidak berhenti pd yaumul-farah was-surur
dalam arti yang dangkal.
Kebahagiaan yang dimaksud dalam islam
adalah kebahagiaan yang sejati.
kebahagiaan sejati di sini dapat kita
runut melalui berbagai latar belakang
keberadaan hari raya dalam islam.
Hari raya yang diakui dalam islam ada 2,
yaitu Idul fitri dan Idul Adha. umat islam
baru bisa merayakan hari raya pd tahun ke-2 hijriah.
saat itu mereka telah memiliki kekuatan
yang mandiri & bebas dari bayang-bayang
penindasan kaum Quraisy dengan adanya hijrah ke madinah.
Karena idul fitri & idul Adha ? karena
kedua hari tersebut sama-sama merupakan
momen yang paling tepat utk berhari raya.
Idul fitri terjadi setelah muslimin
melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
Sedangkan idul Adha terjadi di ujung akhir
pelaksanaan Ibadah haji, yakni setelah hari
ARAFAH yang merupakan perkumpulan
terbesar. umat Islam.
Idul Adha memiliki momen hari raya yang kental,
selain berada dalam rangkaian ibadah Haji, Idul Adha
juga diapit oleh hari Arafah & Tasyriq.
Kedua hari pengapit juga sama-sama
memiliki semangat hari raya. Arafah merupakan
hari pertemuan besar, jamaah haji dilarang berpuasa saat itu.
Selain di hari Arafah menjadi turunnya
ayat penyempurna dalam Islam.
Sedangkan hari Tasyriq merupakan hari
makan & minum (dilarang puasa)
sebagaimana ditegaskan Rasulullah dalam hadisnya.
Lalu apa yang dirayakan saat hari raya ?
mengenai hal ini tentu ada persepsi yang
bernacam-macam, tentunya dari kalangan SUFI.
komentar Ibnu Rajab-al-hambali
berikut ini sangat pas tuk menggambarkan hari raya
sebagai hari bahagia yang hakiki.
Hari fitri menjadi hari raya bagi seluruh umat,
karena pada saat hari itu para pelaku
dosa yang telah berpuasa dibebaskan dari Neraka.
sehingga mereka bisa bergabung dengan orang-orang
yang saleh. begitu pula, hari qurban
menjadi hari raya akbar, karena terjadi
setelah hari ARAFAH.
Hari Arafah merupakan hari yang paling
banyak terjadi pembebasan dari neraka. tidak
ada yang lebih banyak dari hari ARAFAH."
komentar Ibn Rajab.
Jadi kebahagiaan esensial saat hari raya
terkait erat dengan perkembangan MORAL-
SPRITUAL dari seseorang.
Apakah momen sebelum hari raya itu
telah memberikan perubahan positif
terhadap dirinya atau tidak.
Karena itu, Ibn Rajab menutup
komentarnya dengan kalimat indah berikut ini.
"Orang yang dibebaskan dari neraka pada dua
hari raya itu, maka dua hari itu baginya
menjadi hari raya.
Sedangkan orang yang tidak mendapatkan
pembebasan pada hari itu, maka dua hari itu
baginya menjadi hari ancaman."
Jadi, kalau hari raya mau disebut hari bahagia,
tentu makna & ekspresinya bukan
kegembiraan seperti yang dipahami
Masyarakat secara umum.
Boleh jadi hari raya itu di ekspresikan dengan
perasaan takut & perasaan susah yang
bersifat Ukhrawi.
Jadi, masing-masing orang memiliki
persepsi sendiri mengenai makna
kebahagiaan di hari raya.
SEMOGA BERMANFAAT. (end).
peringatan yg baik! semoga dapat terkendali,mendapat sebuah pengalaman,dan pelajaran yg berharga dalam hidup
Selasa, 15 Oktober 2013
Rabu, 09 Oktober 2013
Kalah Sebelum Bertanding
DI ZAMAN Imam Ahmad, sekelompok orang
penganut paham atheis berusaha mengacaukan
keimanan umat perihal adanya tuhan. Dengan
dukungan argumentasi dan logika yang kuat,
mereka berhasil memutar balikkan fakta. kata
mereka, alam semesta terjadi dengan proses
sendirinya. Tanpa campur tangan Zat Maha
Tinggi (Allah). Alhasil manusia tidak perlu
menyembah Tuhan, sesuatu yang sebenarnya
tidak ada, begitu nalar mereka.
Sudah banyak ulama yang berusaha
meluruskan dengan cara
mendebatnya. tapi pendapat
kaum athies ini belum jua
terkalahkan. Bahkan mereka
semakin congkak dengan
keingkarannya.
Hingga datang
tantangan berdebat dari
seorang alim yang sangat
sederhana yang tak lain adalah
Imam Ahmad bin Hanbal.
Penampilannya sekilas tak menunjukkan
bahwa ia seorang ulama yang berilmu
tinggi, Namun kaum atheis tetap
bersedia menerima tantangan berdebat.
Syaratnya harus diselenggarakan pada forum
terbuka, dihadiri banyak orang. Dipilihlah waktu
dan tempat yang disetujui bersama.
Pada hari H, Imam Ahmad datang terlambat.
Tentu saja ia dicaci maki oleh kelompok atheis
dan penonton yang kesal menuggu.
"Sabar, sabar beri aku kesempatan
menjelaskan sebab keterlambatan ini," ujarnya
tenang.
Walau masih menggerutu, mereka menahan
suara.
"Begini, perlu kalian ketahui bahwa saya
tinggal di pinggiran kota. Antara kita dipisahkan
sebuah sungai yang cukup lebar. Nah, ketika
hendak kemari saya tidak mendapat kapal
untuk menyeberang. Itu sebabnya saya terlambat
datang."
"Bagaimana Anda bisa tiba kemari kalau tidak
mendapatkan perahu?" tanya mereka heran.
"Sungguh ajaib" sahut Imam Ahmad.
"Tiba-tiba selembar papan hanyut terapung-
apung dan dengan sendirinya berhenti persis di
depanku. Kemudian disusul oleh papan-papan
lain yang juga hanyut lalu bergabung dengan
papan pertama. Lantas tiba-tiba pula ada
seuntai tali. Papan-papan dan tali itu
merakit diri dengan sendirinya
sehingga menjadi sampan yang
tahan dari kemasukan air. Nah,
sampan kecil itulah yang
menyebrangkan saya hingga
sampai ke tempat ini dengan
selamat," ungkapnya panjang lebar.
Kelompok atheis tertawa terbahak-
bahak. Salah seorang di antara mereka
berkata ketus," Aah, Anda membuat
lelucon saja. Itu mustahil. Tidak masuk akal."
Imam Ahmad menjawab santai,"Nah, kalau
kalian mengingkari sampan yang kecil itu bisa
merakit sendirinya, maka apakah mungkin alam
semesta yang besar dan rumit ini terjadi dengan
sendirinya tanpa peranan Allah SWT?"
Mereka terdiam, bungkam seribu bahasa dan
berkeringat, Karena tidak menemukan jawaban
yang tepat mereka pergi begitu saja. Seketika
penonton bersorak sorai gembira, mengelu-
elukan Imam Ahmad yang sederhana tapi amat
cerdas. Hanya dengan logika yang amat
sederhana, kelompok atheis kalah sebelum
bertanding. Agaknya orang-orang atheis itu harus
segera memilih antara debat ataukah taubat.
penganut paham atheis berusaha mengacaukan
keimanan umat perihal adanya tuhan. Dengan
dukungan argumentasi dan logika yang kuat,
mereka berhasil memutar balikkan fakta. kata
mereka, alam semesta terjadi dengan proses
sendirinya. Tanpa campur tangan Zat Maha
Tinggi (Allah). Alhasil manusia tidak perlu
menyembah Tuhan, sesuatu yang sebenarnya
tidak ada, begitu nalar mereka.
Sudah banyak ulama yang berusaha
meluruskan dengan cara
mendebatnya. tapi pendapat
kaum athies ini belum jua
terkalahkan. Bahkan mereka
semakin congkak dengan
keingkarannya.
Hingga datang
tantangan berdebat dari
seorang alim yang sangat
sederhana yang tak lain adalah
Imam Ahmad bin Hanbal.
Penampilannya sekilas tak menunjukkan
bahwa ia seorang ulama yang berilmu
tinggi, Namun kaum atheis tetap
bersedia menerima tantangan berdebat.
Syaratnya harus diselenggarakan pada forum
terbuka, dihadiri banyak orang. Dipilihlah waktu
dan tempat yang disetujui bersama.
Pada hari H, Imam Ahmad datang terlambat.
Tentu saja ia dicaci maki oleh kelompok atheis
dan penonton yang kesal menuggu.
"Sabar, sabar beri aku kesempatan
menjelaskan sebab keterlambatan ini," ujarnya
tenang.
Walau masih menggerutu, mereka menahan
suara.
"Begini, perlu kalian ketahui bahwa saya
tinggal di pinggiran kota. Antara kita dipisahkan
sebuah sungai yang cukup lebar. Nah, ketika
hendak kemari saya tidak mendapat kapal
untuk menyeberang. Itu sebabnya saya terlambat
datang."
"Bagaimana Anda bisa tiba kemari kalau tidak
mendapatkan perahu?" tanya mereka heran.
"Sungguh ajaib" sahut Imam Ahmad.
"Tiba-tiba selembar papan hanyut terapung-
apung dan dengan sendirinya berhenti persis di
depanku. Kemudian disusul oleh papan-papan
lain yang juga hanyut lalu bergabung dengan
papan pertama. Lantas tiba-tiba pula ada
seuntai tali. Papan-papan dan tali itu
merakit diri dengan sendirinya
sehingga menjadi sampan yang
tahan dari kemasukan air. Nah,
sampan kecil itulah yang
menyebrangkan saya hingga
sampai ke tempat ini dengan
selamat," ungkapnya panjang lebar.
Kelompok atheis tertawa terbahak-
bahak. Salah seorang di antara mereka
berkata ketus," Aah, Anda membuat
lelucon saja. Itu mustahil. Tidak masuk akal."
Imam Ahmad menjawab santai,"Nah, kalau
kalian mengingkari sampan yang kecil itu bisa
merakit sendirinya, maka apakah mungkin alam
semesta yang besar dan rumit ini terjadi dengan
sendirinya tanpa peranan Allah SWT?"
Mereka terdiam, bungkam seribu bahasa dan
berkeringat, Karena tidak menemukan jawaban
yang tepat mereka pergi begitu saja. Seketika
penonton bersorak sorai gembira, mengelu-
elukan Imam Ahmad yang sederhana tapi amat
cerdas. Hanya dengan logika yang amat
sederhana, kelompok atheis kalah sebelum
bertanding. Agaknya orang-orang atheis itu harus
segera memilih antara debat ataukah taubat.
Langganan:
Postingan (Atom)