Selasa, 05 November 2013

Mengobati Hati yang Buta


((العجب كل العجب ممن يهرب مما لاانفكاك له عنه و يطلب ما لا بقاء له معه (فإنها لا تعمى الأبصار و لكن تعمى القلوب التى في الصدور) ))
“Keajaiban yang sungguh mengherankan ialah seseorang yang berlari dari sesuatu yang tidak mungkin lepas darinya. Dan (kemudian) ia mencri sesuatu yang tak akan kekal bersama dirinya. (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”.(QS. Al Hajj:46)
1. Penjelasan
Allah SWT adalah Dzat yang tak akan lepas/terpisah dari seorang manusia semenjak pertama kali ada hingga ia sampai ke dalam syurga atau malah kekal di dalam neraka. Baik ia kafir, fasik ataupun mukmin. Baik ia hidup di belahan bumi bagian barat maupun timur. Dalam semua keadaan, Allah SWT pasti selalu bersamanya. Sama saja apakah ia hidup di dunia fana ini ataupun menjalani kehidupan di akhirat kelak.
Namun kebersamaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan seorang manusia tidak terbatasi oleh posisi atau tempat tertentu dan tentunya tidak boleh di bayangkan dengan penggambaran-penggambaran yang menunjukkan keserupaan Allah SWT dengan makhluk. Makna kebersamaan Allah SWT adalah bersama dengan ilmu, perlindungan dan pengaturan.
Allah SWT adalah satu-satunya Khaliq sedangkan selain Allah adalah makhluk. Apabila manusia hidup dengan dikelilingi berbagai macam makhluk, maka hal itu hanyalah sementara dan pasti segera meninggalkan atau ditinggalkannya. Mungkin ia akan mati lebih dahulu sehingga harus meninggalkannya dan mungkin juga makhluk yang melingkupinya musnah/pergi hingga ia berada jauh dari makhluk tersebut atau bahkan hilang sama sekali.
Tabiat manusia biasanya akan menyukai rumah yang telah ia bangun, perkakas-perkakas yang ia jadikan hiasan, anak dan istri, harta benda yang telah ia usahakan, pangkat yang ia miliki atau ketenaran yang ia nikmati dan sebagainya. Ia hanya melihat sebab dan media secara lahiriah tanpa menyadari adanya Dzat yang menjadikan sebab-sebab tersebut.
Ia memandang hujan yang turun dari langit kemudian berterima kasih kepada langit serta menceritakan agungnya kasih sayang langit. Saat melihat bumi yang menghijau oleh pepohonan atau mata air yang melimpah, maka hal itu hanya menggerakkan perasaannya untuk bersyukur kepada alam.
Mayoritas manusia beranggapan akan menjalani kehidupan yang panjang di dunia fana ini. Mereka mengumpulkan harta kekayaan dan menumpuk-numpuknya. Selalu mencari tambahan tanpa pernah puas karena terlanjur tergila-gila kepadanya. Mereka menjalin persahabatan dan koneksi-koneksi dengan mengatasnamakan sebagai perintah-perintah ketuhanan lalu berusaha mengabadikannya, namun sebenarnya alasan mereka hanyalah karena nafsu syahwat dan kenikmatan-kenikmatan yang ingin mereka rasakan selama-lamanya.
Akan tetapi, apakah hukum-hukum alam akan mengijinkan keabadian bayangan-bayangan mereka? Ataukah alam akan membiarkan ia hidup abadi bersama kesenangan-kesenangan yang mereka inginkan?
Sebenarnya Allah SWT telah menjadikan alam ini berbicara dan bahkan semua perkara yang ada di dunia ini berkata-kata melontarkan jawaban pada pertanyaan di atas. Hal itu bisa kita saksikan ketika Allah SWT menciptakan kebiasaan-kebiasaan alami yang tetap dan tidak berubah-ubah. Fase-fase wujud kehidupan segala sesuatu pasti tersusun dari permulaan yang lemah, semakin bertambah kekuatannya sedikit demi sedikit hingga mencapai puncaknya kemudian kembali lemah, layu, pudar dan akan hilang sama sekali.
Ini merupakan hukum alam yang selalu melekat kepada segala sesuatu di alam semesta, mulai dari manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, bunga-bunga yang bermekaran, hingga bintang-bintang dan bahkan bumi yang kita pijak setiap hari. Contoh yang sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sebatang pohon. Bermula dari sebiji benih yang merekah, berubah menjadi tumbuhan kecil lalu berkembang secara bertahap hingga mencapai puncaknya. Kemudian dengan segera akan mengalami fase-fase semakin lemah hingga layu dan akhirnya mati.
Kisah yang sama akan kita jumpai dalam perkembangan hidup bunga-bunga yang tumbuh pada musim tertentu, tumbuh dan berkembang kemudian layu dan hilang. Begitu juga matahari yang mengeluarkan sinar lemah di pagi hari lalu semakin terang hingga mencapai puncaknya pada siang hari. Kemudian kekuatan sinarnya akan semakin lemah hingga persis sebagaimana keadaannya di waktu terbit lalu akhirnya hilang dari pandangan.
Semua fenomena ala mini memberitahukan kepada kita tentang akhir yang akan menimpa segala sesuatu, yaitu musnah dan sirna. Tak lain agar kita tidak tertipu dan terperdaya oleh kekuatan dan kejayaan yang berada di depan kedua mata dengan iming-iming kebahagiaan yang tersimpan di balik semuanya.
2. Dalil
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. Al Hadid: 20)
Pemandangan yang semula tampak indah di depan mata lalu akhirnya layu, lemah kemudian hilang seperti dalam ayat di atas akan selalu berlaku dalam setiap kesenangan dan kemewahan duniawi yang kerap kali membutakan manusia. Lalu bagaimana kita menyikapinya?
Akal dan logika normal akan berkata, “Eratkanlah hubungan dan ikatanmu dengan Dzat yang menciptakan semua makhluk, yang memiliki kehendak dan kuasa serta mengatur dan menjaga semesta raya. Pergunakanlah apa yang kau butuhkan di dunia ini sebagai pinjaman yang wajib di kembalikan dan ingatlah bahwa apa yang kau lihat ini hanyalah substansi yang pasti akan segera hancur dan sirna.
Dengan begitu engkau akan melihat dan menerima perkara-perkara yang ada di dunia ini secara lahir, namun hatimu hanya berhubungan dan berpegangan kepada Dzat yang menciptakannya. Jika masanya selesai dan waktu perpisahan tiba, maka engkau akan tetap bersama Dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Sempurna. Saat sebuah media yang ada dalam kekuasaanmu sirna, engkau tak akan bingung mencari sebab lain sebagai pegangan yang nantinya pun berakhir dengan kisah yang sama. Seperti seseorang yang berdiri di atas gumpalan salju, saat matahari memanasi bumi, salju akan melelh dan musnah. Akhirnya ia berpijak kepada bumi tanpa menyadari bahwa keadaan bumi akhirnya juga persis seperti salju. Dengan berpegang erat kepada Dzat yang menciptakan sebab, maka hilangnya perkara-perkara yang ada di hadapanmu tak akan berpengaruh apa-apa bagimu. Menjauhnya perantara tak akan berimbas buruk kepada kehidupanmu.
Setelah itu, saat episode kematian harus engkau jalani, maka takkan ada rasa sedih atau putus asa atas perpisahanmu dengan dunia. Hal itu karena engkau tahu bahwa dunia ini hanyalah perantara yang mengantarkanmu menuju kehidupan yang lebih mulia. Kematian juga tidak pernah memisahkanmu dengan teman yang selalu bersamamu dan menjadi satu-satunya pegangan dalam hidupmu. Maut yang mendatangimu tidaklah memutuskan hubunganmu dengan Allah Yang Maha Kuasa. Yaitu hubungan yang telah engkau jalin selama hidup di dunia fana.
Seseorang yang menjalani hidup dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan memberi pengaruh, maka ia pastinya akan mengalami kehidupan alam barzakh yang tidak jauh berbeda dengan kehidupannya di bumi. Kalau ia mengalami perubahan dan pergerakan di dunia dengan tetap selalu bersama Allah Yang Maha Pencipta, maka ketika ia sendirian terkubur dalam perut bumi pastinya juga bersama dengan Allah SWT. Bahkan ia akan lebih senang karena ia telah terpisah dari materi-materi dunia yang membingungkan dan menyesatkan.
Saat hari kiamat tiba dan nyawa-nyawa dikembalikan ke dalam jasadnya masing-masing, lalu semua manusia digiring ke hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia semakin bertambah gembira dan merasa bahagia. Bagaimana tidak? Ia telah menjalani tahap demi tahap kehidupan selama ini tanpa pernah terlepas dari Allah SWT. Sedangkan hari ini adalah waktunya untuk menghadap Allah SWT. Pasti ia akan merasa lebih bahagia dan hubungannya ikatannya akan semakin erat terjalin bersama Allah SWT.
3. Misteri keajaiban
Dengan demikian, layak sekali kalau sekarang ini kita bersama Ibnu ‘Athaillah terheran-heran dan terkagum-kagum kepada orang-orang yang berlari ingin meninggalkan Tuhan yang tak mungkin kekal bersamanya. Hal ini terjadi karena mereka hanya melihat dan mempergunakan media dan perantara secara lahiriah, berpegangan serta mengandalkan kemewahan yang mereka nikmati, namun mereka lupa dan lalai kepada Tuhan yang menganugerahkan segala kenikmatan tersebut. Bahkan mungkin juga mereka mengingkari adanya Tuhan Yang Maha Pencipta.
Kekaguman ini sangat wajar karena sebenarnya akal dan mata batin orang tersebut telah mengetahui bahwa media yang mereka nikmati dan mereka pergunakan adalah sesuatu yang pasti sirna dan tak akan abadi. Logika mereka juga mengerti bahwa dalam sebab-sebab lahiriah itu telah melekat tabiat rusak dan musnah.
Yang lebih mengherankan, setiap hari ia melihat sirnanya kenikmatan-kenikmatan duniawi itu dan ia juga menyaksikan hilang atau menjauhnya kesenangan meninggalkan orang-orang yang bergantung kepada materi-materi tersebut. Semua itu benar-benar meninggalkan mereka atau sebaliknya malah mereka sendiri yang meninggalkan segalanya. Hanya satu yang tak pernah lepas dari mereka, yaitu Tuhan yang selalu menyertai sepanjang hidup yang mereka jalani. Dengan kenyataan seperti ini, ternyata ia masih mengandalkan dunia yang ada di depan mata dan bahkan berlari menjauhi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Selain fakta dan kenyataan yang sangat jelas tersebut, ia sebenarnya sangat sering mendengar nasehat serta peringatan-peringatan tentang keburukan dan bahaya dunia. Anehnya ia masih saja berpijak kepada sebongkah salju tanpa peduli apakah ia nantinya akan terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, ketika salju tersebut akhirnya leleh dan mencair.
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.”(QS. An Nur: 39)
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS. Al Kahfi: 46)
“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maksudnya, hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.”(QS. Al Qashash: 60)
4. Koneksi yang serasi
Menjalin hubungan dengan Allah SWT bukanlah berarti meninggalkan materi-meteri dunia secara total. Hal itu karena dunia ini diciptakan oleh Allah SWT sebagai anugerah yang disediakan untuk manusia seluruhnya. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla tidak rela apabila manusia berpaling sama sekali meninggalkan dunia.
Seorang muslim hanyalah dituntut agar ia yakin dengan sebenar-benarnya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang memberikan anugerah dan pemberian. Dengan begitu ia tidak akan mencari rizqi selain dari Allah SWT. Ia harus tahu hanya Allah –lah yang menciptakan semua sebab yang timbul di dunia ini. Akhirnya ia tidak akan menyangka bahwa sebab-sebab lahiriah itu mempunyai pengaruh-pengaruh yang harus di perhitungkan. Ia harus sadar bahwa dunia yang tampak elok dan sedap di pandang serta enak untuk dinikmati, itu pasti akan segera pergi atau bahkan sirna sama sekali. Tak ada teman, sahabat, keluarga ataupun kekasih yang setia bersamanya selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Dengan keyakinan seperti ini, maka ia tidak akan pernah condong kepada dunia. Segenap jiwanya hanya tertertuju kepada Allah SWT, satu-satunya Dzat yang menjadi pelipur lara hatinya, tempat berlindung serta sumber kebahagiaannya. Itulah keadaan seorang mu’min sejati.
Secara lahir ia menggunakan berbagai sarana dunia, namun hatinya hanya meyakini bahwa Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan semua itu. Hatinya selalu ingat dan terhubung kepada Allah yang menganugerahkan segala macam nikmat. Saat perasaan takut menghampiri, tak ada tempat pengaduan dan tempat berlindung selain Allah ‘Azza wa Jalla. Jiwanya senantiasa diliputi ketenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.
5. Kisah teladan
Seorang lelaki shalih harus meninggalkan desanya karena suatu tuntutan urusan keagamaan. Ia memutuskan sebuah desa baru sebagai tempat tinggalnya. Suatu saat, seorang imam masjid yang menjadi tempat biasa shalat sang lelaki tersebut berkenalan dengannya. Si imam masjid bertanya mengenai sumber perekonomian sang lelaki hingga kemudian ia menjawab dengan tenang bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah melupakannya.
Setelah beberapa hari berlalu, syaikh imam masjid kembali menanyakan keadaan sang lelaki shalih dan ingin tahu lebih jelas tentang sumber penghidupannya. Lelaki itupun meyakinkan kembali bahwa Allah SWT selalu memberikan anugerah kepadanya dan ia sama sekali tidak merasakan kesulitan dalam hal rizqi.
Jawaban tersebut ternyata belum memuaskan sang imam masjid, sehingga dalam pertemuan yang ketiga ia bertanya lagi kepada si lelaki shalih, “Dari mana sesungguhnya engkau mendapatkan penghidupan?”, si lelaki menjawab, “Sebenarnya di desa ini ada seorang Yahudi yang mengenal dan mengerti kondisiku. Ia kemudian mengirimkan sebagian hartanya kepadaku, hingga cukup untuk memnuhi kebutuhanku sehari-hari”.
Syaikh imam masjid berkata, “baiklah kalau begitu, sungguh baru sekarang kegelisahanku yang selama ini menyelimutiku, hilang dan sirna”. Lelaki shalih tersebut kemudian menimpali, “Wahai orang yang ada di depanku, sunggu aku bersumpah untuk melakukan qadha’ atas shalat-shalat yang aku dirikan di belakangmu. (kiasan bahwa pada saat itu, sang imam berada dalam keadaan yang kurang sempurna imannya). Berkali-kali aku telah meyakinkanmu, sesungguhnya Allah SWT telah menjamin rizqiku dan tak akan melupakanku, tapi mengapa hal itu belum bisa menenangkanmu. Namun sebaliknya, saat aku memberitahukan kepadamu bahwa yang membantu permasalahan rizqiku adalah seorang Yahudi, engkau baru percaya akan adanya jaminan dan tanggungan Allah SWT.
Seperti itulah keadaan sebagian besar kaum muslim dewasa ini. Mereka mengagungkan dan membangga-banggakan materi serta bentuk-bentuk lahiriah, hingga melalaikan siapa yang menciptakan semua itu. Akhirnya mereka hidup dalam imajinasi dan khayalan, tanpa mengerti substansi sebenarnya. Mereka terperangkap oleh fatamorgana yang tiada berwujud nyata, sehingga lupa kepada Dzat yang memiliki eksistensi paling nyata memenuhi semesta raya. Mereka berbicara mengenai kasih sayang langit, namun tak menyadari Dzat yang menciptakan dan sangat mengasihinya. Mereka tak memperhitungkan tangan yang penuh belas kasih, menyuapkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut mereka, namun malah membangga-banggakan sendok yang menuangkan makanan, mengisi sudut-sudut mulut mereka.
6. Di balik misteri
Ibnu ‘Athaillah mengakhiri hikmah ini dengan sebuah firman Allah ‘Azza wa Jalla,
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.(QS. Al Hajj: 46)

Bersihkan Hatimu dengan Berdzikir kepada Allah


Seseorang akan bertambah dekat kepada Allah dengan cara memperbanyak dzikir dan tafakkur atau berangan-angan atas kebesaran Allah serta selalu bertawakkal kepada Allah . banyak sekali orang yang pintar menjadi pemimpin serta banyak hartanya tetapi terkadang mereka lupa dari mana asalnya semua itu.
Marilah Sedikit kita tengok sejarah Firaun yang ketika itu diuji oleh Allah dengan kekayaan dan kekuasaan akhirnya menjadi orang yang terla’nat karena kesombongan yang membuat dirinya mengaku sebagai Tuhan. Juga ceritanya si Qorun yang semua kekayaanya oleh Allah dimasukkan ke dalam tanah karena kesombongan dan kebanggaanya dan cerita Tsa’labah yang terkena adzab dari Allah S.W.T karena dengan keras menolak Rasulullah untuk mengeluarkan zakat. Dan masih banyak cerita-cerita lainya yang patut kita jadikan sebagai peringatan bagi diri kita.
Dengan merenungi banyak kejadian yang sudah lewat maka percuma saja jika kita bersedekah dengan mengeluarkan banyak harta dan banyak tenaga kalau ternyata niat kita untuk selain Allah. Rasulullah S.A.W menjelaskan bahwa semua amal dan perbuatan itu tergantung pada niatnya
“ ا نما الاعما ل باالنيات وا نما لكل امرء ما نوا "
‘Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan”.
Dengan ketegasan dalil tersebut maka kita harus membersihkan hati kita dan melakukan amal kebaikan diniati hanya karena Allah. Jadi, apabila kita banyak bersedekah dan melakukan kebaikan tetapi diniati karena dunia maka tidak akan ada hasilnya di akhirat nanti . Sering kita mendengar bahwa yang namanya dunia adalah sesautu yang tidak ada manfaatnya di akhirat seperti yang telah ditegaskan oleh para Ulama’,
“ الدّنيا كل ما لا ينفع في الأ خرة "
Artinya : “ Dunia adalah sesuatu yang tidak ada manfaatnya didalam akhirat”.
Jadi ketika amalan –amalan di dunia itu diniati untuk akhirat maka akan membuahkan hasil di akhirat kelak.
Semua amalan yang diniati karena Allah itu sulit sebelum hati menjadi bersih. Oleh karena itu, jika seseorang ingin membersihkan hatinya maka hendaknya dia selalu memperbanyak dzikir kepada Allah dengan cara membaca Istghfar. Dalam hal ini Rasulullah juga menganjurkan untuk membaca istighfar setiap hari tidak kurang dari 70 atau 100 kali. Jika hati sudah bersih maka kita akan mudah untuk memurnikan niat kita karena Allah disamping itu kita juga akan semakin mudah dan tenang ketika menghadapi ujian.
Di zaman yang serba modern ini banyak orang yang ketika diuji oleh Allah tidak kuat untuk bersabar dan mereka lebih memilih jalan pintas dengan cara bunuh diri. Mereka beranggapan bahwa ketika sudah mati dengan cara bunuh diri masalah sudah selesai. Akan tetapi, jalan seperti itu justru akan menjadikan masalah karena tindakan itu adalah perbuatan dosa besar . Hati yang bersih itu ibarat pakian yang suci. Artinya pakaian yang tidak terkena najis. kalau pakaian sudah menjadi suci dan bersih maka orang yang melihat pun akan senang. Demikian pula hati yang bersih akan menampakkan raut wajah yang menyenangkan. Sebagian Ulama’ juga mengomentari tentang pentingnya hati yang bersih dengan mendawuhkan,
“ وطهر القلب وصحح النية “
Maqolah Ulama’ di atas terdapat fi’il amar yang di dalam ilmu Ushul Fiqh menunjukkan hukum wajib. Maka dari itu membersihkan hati pun hukumnya wajib .
Untuk itu kami khususnya diri saya sendiri mengajak seluruh pembaca marilah kita membersihkan hati kita supaya kita bisa tambah mendekatkan diri kita kepada Allah S.W.T dan marilah kita mendo’akan semua Masyayikh kita semoga beliau semuanya selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah S.W.T Amin……

Senin, 04 November 2013

IMAN, ISLAM, DAN IHSAN


IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

Hadits Arbain ke-2


عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر , لا يرى عليه أثر السفر , ولا يعرفه منا أحد حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسند ركبته إلى ركبتيه ووضح كفيه على فخذيه , وقال : يا محمد أخبرني عن الإسلام , فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا ” قال صدقت فعجبا له يسأله ويصدقه , قال : أخبرني عن الإيمان قال ” أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره ” قال : صدقت , قال : فأخبرني عن الإحسان , قال ” أن تعبد الله كأنك تراه , فإن لم تكن تراه فإنه يراك ” قال , فأخبرني عن الساعة , قال ” ما المسئول بأعلم من السائل ” قال فأخبرني عن اماراتها . قال ” أن تلد الأمة ربتها وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان ” . ثم انطلق فلبث مليا , ثم قال ” يا عمر , أتدري من السائل ؟” , قلت : الله ورسوله أعلم , قال ” فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم ” رواه مسلم

Terjemahan:

Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya.
Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata,” Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam ” Rasulullah menjawab,”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata,”Engkau benar,” kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya.
Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Iman” Rasulullah menjawab,”Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk” Orang tadi berkata,” Engkau benar” Orang itu berkata lagi,”
Beritahukan kepadaku tentang Ihsan” Rasulullah menjawab,”Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.” Orang itu berkata lagi,”Beritahukan kepadaku tentang kiamat” Rasulullah menjawab,” Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.”
Selanjutnya orang itu berkata lagi,”beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya” Rasulullah menjawab,” Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.” Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab,” Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui” Rasulullah berkata,” Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu.

Penjelasan:

Hadits ini sangat berharga karena mencakup semua fungsi perbuatan lahiriah dan bathiniah, serta menjadi tempat merujuk bagi semua ilmu syari’at dan menjadi sumbernya. Oleh sebab itu hadits ini menjadi induk ilmu sunnah.Hadits ini menunjukkan adanya contoh berpakaian yang bagus, berperilaku yang baik dan bersih ketika datang kepada ulama, orang terhormat atau penguasa, karena jibril datang untuk mengajarkan agama kepada manusia dalam keadaan seperti itu.Kalimat “ Ia meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua paha beliau, lalu ia berkata : Wahai Muhammad…..” adalah riwayat yang masyhur. Nasa’i meriwayatkan dengan kalimat, “Dan ia meletakkan kedua tangannya pada kedua lutut Rasulullah….” Dengan demikian yang dimaksud kedua pahanya adalah kedua lututnya.Dari hadits ini dipahami bahwa islam dan iman adalah dua hal yang berbeda, baik secara bahasa maupun syari’at. Namun terkadang, dalam pengertian syari’at, kata islam dipakai dengan makna iman dan sebaliknya. Kalimat, “Kami heran, dia bertanya tetapi dia sendiri yang membenarkannya” mereka para shahabat Rasulullah menjadi heran atas kejadian tersebut, karena orang yang datang kepada Rasulullah hanya dikenal oleh beliau dan orang itu belum pernah mereka ketahui bertemu dengan Rasulullah dan mendengarkan sabda beliau. Kemudian ia mengajukan pertanyaan yang ia sendiri sudah tahu jawabannya bahkan membenarkannya, sehingga orang-orang heran dengan kejadian itu.
Kalimat, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, dan kepada kitab-kitab-Nya….” Iman kepada Allah yaitu mengakui bahwa Allah itu ada dan mempunyai sifat-sifat Agung serta sempurna, bersih dari sifat kekurangan,. Dia tunggal, benar, memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya, tidak ada yang setara dengan Dia, pencipta segala makhluk, bertindak sesuai kehendak-Nya dan melakukan segala kekuasaan-Nya sesuai keinginan-Nya.
Iman kepada Malaikat, maksudnya mengakui bahwa para malaikat adalah hamba Allah yang mulia, tidak mendahului sebelum ada perintah, dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.
Iman kepada Para Rasul Allah, maksudnya mengakui bahwa mereka jujur dalam menyampaikan segala keterangan yang diterima dari Allah dan mereka diberi mukjizat yang mengukuhkan kebenarannya, menyampaikan semua ajaran yang diterimanya, menjelaskan kepada orang-orang mukalaf apa-apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Para Rasul Allah wajib dimuliakan dan tidak boleh dibeda-bedakan.

Iman kepada hari Akhir, maksudnya mengakui adanya kiamat, termasuk hidup setelah mati, berkumpul dipadang Mahsyar, adanya perhitungan dan timbangan amal, menempuh jembatan antara surga dan neraka, serta adanya Surga dan Neraka, dan juga mengakui hal-hal lain yang tersebut dalam Qur’an dan Hadits Rosululloh.
Iman kepada taqdir yaitu mengakui semua yang tersebut diatas, ringkasnya tersebut dalam firman Allah QS. Ash-Shaffaat : 96, “Allah menciptakan kamu dan semua perbuatan kamu” dan dalam QS. Al-Qamar : 49, “Sungguh segala sesuatu telah kami ciptakan dengan ukuran tertentu” dan di ayat-ayat yang lain.
Demikian juga dalam Hadits Rasulullah, Dari Ibnu Abbas, “Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan suatu keuntungan kepadamu, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang Allah telah tetapkan pada dirimu. Sekiranya merekapun berkumpul untuk melakukan suatu yang membahayakan dirimu, niscaya tidak akan membahayakan dirimu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”Para Ulama mengatakan, Barangsiapa membenarkan segala urusan dengan sungguh-sungguh lagi penuh keyakinan tidak sedikitpun terbersit keraguan, maka dia adalah mukmin sejati.
Kalimat, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya….” Pada pokoknya merujuk pada kekhusyu’an dalam beribadah, memperhatikan hak Allah dan menyadari adanya pengawasan Allah kepadanya serta keagungan dan kebesaran Allah selama menjalankan ibadah.
Kalimat, “Beritahukan kepadaku tanda-tandanya ? sabda beliau : Budak perempuan melahirkan anak tuannya” maksudnya kaum muslimin kelak akan menguasai negeri kafir, sehingga banyak tawanan, maka budak-budak banyak melahirkan anak tuannya dan anak ini akan menempati posisi majikan karena kedudukan bapaknya. Hal ini menjadi sebagian tanda-tanda kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa itu menunjukkan kerusakan umat manusia sehingga orang-orang terhormat menjual budak yang menjadi ibu dari anak-anaknya, sehingga berpindah-pindah tangan yang mungkin sekali akan jatuh ke tangan anak kandungnya tanpa disadarinya.
Hadits ini juga menyatakan adanya larangan berlomba-lomba membangun bangunan yang sama sekali tidak dibutuhkan. Sebagaimana sabda Rasulullah,” Anak adam diberi pahala untuk setiap belanja yang dikeluarkannya kecuali belanja untuk mendirikan bangunan”
Kalimat, “Penggembala Domba” secara khusus disebutkan karena merekalah yang merupakan golongan badui yang paling lemah sehingga umumnya tidak mampu mendirikan bangunan, berbeda dengan para pemilik onta yang umumnya orang terhormat.
Kalimat, “Saya tetap tinggal beberapa lama” maksudnya Umar radhiallahu ‘anh tetap tinggal ditempat itu beberapa lama setelah orang yang bertanya pergi, dalam riwayat yang lain yang dimaksud tetap tinggal adalah Rosululloh.

Kalimat, “Ia datang kepada kamu sekalian untuk mengajarkan agamamu” maksudnya mengajarkan pokok-pokok agamamu, demikian kata Syaikh Muhyidin An Nawawi dalam syarah shahih muslim. Isi hadits ini yang terpenting adalah penjelasan islam, iman dan ihsan, serta kewajiban beriman kepada Taqdir Allah Ta’ala.
Sesungguhnya keimanan seseorang dapat bertambah dan berkurang, QS. Al-Fath : 4, “Untuk menambah keimanan mereka pada keimanan yang sudah ada sebelumnya”. Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya bahwa ibnu Abu Mulaikah berkata, “Aku temukan ada 30 orang shahabat Rasulullah yang khawatir ada sifat kemunafikan dalam dirinya. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mengatakan bahwa ia memiliki keimanan seperti halnya keimanan Jibril dan Mikail ‘alaihimus salaam”
Kata iman mencakup pengertian kata islam dan semua bentuk ketaatan yang tersebut dalam hadits ini, karena semua hal tersebut merupakan perwujudan dari keyakinan yang ada dalam bathin yang menjadi tempat keimanan. Oleh karena itu kata Mukmin secara mutlak tidak dapat diterapkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar atau meninggalkan kewajiban agama, sebab suatu istilah harus menunjukkan pengertian yang lengkap dan tidak boleh dikurangi, kecuali dengan maksud tertentu. Juga dibolehkan menggunakan kata Tidak beriman sebagaimana pengertian hadits Rasulullah, “Seseorang tidak berzina ketika dia beriman dan tidak mencuri ketika dia beriman” maksudnya seseorang dikatakan tidak beriman ketika berzina atau ketika dia mencuri.
Kata islam mencakup makna iman dan makna ketaatan, syaikh Abu ‘Umar berkata, “kata iman dan islam terkadang pengertiannya sama terkadang berbeda. Setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin” ia berkata, “pernyataan seperti ini sesuai dengan kebenaran” Keterangan-keterangan Al-Qur’an dan Assunnah berkenaan dengan iman dan islam sering dipahami keliru oleh orang-orang awam. Apa yang telah kami jelaskan diatas telah sesuai dengan pendirian jumhur ulama ahli hadits dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Niat dan Ikhlas


Hadits Arbain ke-1


عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه
Terjemahan:
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]
Penjelasan:Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam.
Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.
Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.
Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.
Pertama : Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya.
Misalnya, kalimat pada firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman).

(QS. Ar-Ra’d : 7)
Kalimat ini secara sepintas menyatakan bahwa tugas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya beliau mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar gembira dan lain sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah :
“Innamal hayatud dunyaa la’ibun walahwun” à “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”. (QS. Muhammad : 36)
Kalimat ini (wallahu a’lam) menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.
Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.
Kedua : Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya, walahu a’lam
Ketiga : Kalimat “Dan Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya.
Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Wallahu a’lam

Biografi Lengkap Imam Bukhari


Biografi Lengkap Imam Bukhari

Sebelum pada paparan Biografi Imam Bukhori, kita baca dahulu perkataan Muhammad bin Hatim Warraq Al-Bukhari rahimahullah, menceritakan,
“Aku bermimpi melihat Bukhari berjalan di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap kali Nabi mengangkat telapak kakinya maka Abu Abdillah (Bukhari) pun meletakkan telapak kakinya di situ.” (Hadyu Sari, hal. 656)

Nama dan Nasab Imam Bukhari


Nama lengkap Imam Bukhori adalah Muhammad, putra dari Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah. Imam Bukhari dilahirkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H di Bukhara (Bukarest). Ketika masih kecil, ayahnya yaitu Isma’il sudah meninggal sehingga dia pun diasuh oleh sang ibu. Ghinjar dan Al-Lalika’i menceritakan bahwa ketika kecil kedua mata Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.” Pagi harinya dia dapati penglihatan anaknya telah sembuh (lihat Hadyu Sari, hal. 640)

Kekuatan Hafalan Imam Bukhari dan Kecerdasannya


Muhammad bin Abi Hatim Warraq Al Bukhari menceritakan: Aku mendengar Bukhari mengatakan, “Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis (kuttab).” Aku berkata kepadanya, “Berapakah umurmu ketika itu?” Dia menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari Kuttab, aku pun bolak-balik menghadiri majelis haditsnya Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Suatu hari tatkala membacakan hadits di hadapan orang-orang dia (Ad-Dakhili) mengatakan, ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Maka dia pun menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, ‘Rujuklah kepada sumber aslinya, jika kamu punya.’ Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah Az Zubair (bukan Abu Zubair, pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, ‘Kamu benar’. Menanggapi cerita tersebut, Bukhari ini Warraq berkata, “Biasa, itulah sifat manusia. Ketika membantahnya umurmu berapa?” Bukhari menjawab, “Sebelas tahun.” (Hadyu Sari, hal. 640)
Hasyid bin Isma’il mengatakan: Dahulu Bukhari biasa ikut bersama kami bolak-balik menghadiri pelajaran para masayikh (para ulama) di Bashrah, pada saat itu dia masih kecil. Dia tidak pernah mencatat, sampai-sampai berlalu beberapa hari lamanya. Setelah 6 hari berlalu kami pun mencela kelakuannya. Menanggapi hal itu dia mengatakan, “Kalian merasa memiliki lebih banyak hadits daripada aku. Cobalah kalian tunjukkan kepadaku hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadits tersebut. Lalu ternyata dia menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dia membacakan hadits-hadits itu semua dengan ingatan (di luar kepala), sampai-sampai kami pun akhirnya harus membetulkan catatan-catatan kami yang salah dengan berpedoman kepada hafalannya (Hadyu Sari, hal. 641)
Telah bercerita Muhammad bin Al Azhar As Sijistani rahimahullah : Dahulu aku ikut hadir dalam majelis Sulaiman bin Harb sedangkan Bukhari juga ikut bersama kami. Dia hanya mendengarkan dan tidak mencatat. Ada orang yang bertanya kepada sebagian orang yang hadir ketika itu, “Mengapa dia tidak mencatat?” Maka orang itu pun menjawab, “Dia akan kembali ke Bukhara dan menulisnya berdasarkan hafalannya.” (Hadyu Sari, hal. 641)
Suatu waktu Bukhari rahimahullah datang ke Baghdad. Para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadits yang telah dibolak-balikkan isi hadits dan sanadnya, matan yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadits ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadits yang berbeda kepada Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadits yang mereka bawakan, maka Bukhari menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini selesai, maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu, “Adapun hadits yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadits yang benar adalah demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadits beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadits yang telah dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau (lihat Hadyu Sari, hal. 652)

Muhammad bin Hamdawaih rahimahullah menceritakan: Aku pernah mendengar Bukhari mengatakan, “Aku hafal seratus ribu hadits sahih.” (Hadyu Sari, hal. 654). Bukhari rahimahullah mengatakan, “Aku menyusun kitab Al-Jami’ (Shahih Bukhari, pent) ini dari enam ratus ribu hadits yang telah aku dapatkan dalam waktu enam belas tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah.” (Hadyu Sari, hal. 656)
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah  bahwa apabila Bukhari membaca Al-Qur’an maka hati, pandangan, dan pendengarannya sibuk menikmati bacaannya, dia memikirkan perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di dalamnya, dan mengetahui hukum halal dan haramnya (lihat Hadyu Sari, hal. 650)
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas jasa-jasa beliau dengan sebaik-baik balasan dan memasukkannya ke dalam Surga Firdaus yang tinggi. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dapat melanjutkan perjuangannya dalam membela Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebarkannya kepada umat manusia. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Biografi Imam Syafi’i


Biografi Imam Syafi’i

Kali ini kita akan mengenal lebih jauh sosok Ulama Islam kita, Imam Syafi’i. Dalam biografi imam syafi’i ini akan dipaparkan betapa kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu dan berdakwah di jalan Allah. Kunyah (Nama Panggilan dalam Islam) beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.

imam syafi'i

TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN IMAM SYAFI’I
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.
PERTUMBUHAN IMAM SYAFI’I
Imam Syafi’i tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.
Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang
KECERDASAN IMAM SYAFI’I
Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:
1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.
4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.
Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Asy-Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa. ”
KESUNGGUHAN MENUTUT ILMU
Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah. ” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah. ” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.
GURU-GURU BELIAU
Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:
1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah
2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri
3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i
4. Sufyan bin Uyainah
5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.
Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:
1. Malik bin Anas
2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany
3. Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya;
1. Mutharrif bin Mazin
2. Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.
Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:
1. Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.
2. Ismail bin Ulayah.
3. Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.

MURID-MURID BELIAU
Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:
1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
3. Ishaq bin Rahawaih,
4. Harmalah bin Yahya
5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.
KARYA BELIAU
Imam Syafi’i Rahimahullah mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.
Semoga kita diberi kemudahan waktu dan ilmu untuk mempelajari biografi ulama-ulama kita.

Sabtu, 02 November 2013

Belajar vs Beribadah; Pilih Mana?

Belajar vs Beribadah; Pilih Mana?
Ahmad bin al-Hiwari menuntut ilmu (Hadis) selama 30 tahun. Ketika sudah mencapai puncaknya, ia membawa kitab-kitabnya ke laut, lalu ia tenggelamkan kitab-kitabnya itu. Ia berkata, “Wahai ilmu, aku tidak bermaksud menghina dan meremehkanmu. Aku mencarimu agar aku  memperoleh hidayah yang dapat mengantarkanku kepada Tuhanku. Kini, aku telah memperolehnya dan aku tidak lagi butuh kepadamu”.
Cerita ini dikutip oleh Ibnul Jauzi (w.597 H.) dalam Talbîsu Iblîs-nya. Ia mengkritik doktrin segelintir sufi yang lebih suka beribadah daripada menuntut dan mempelajari ilmu. Menurutnya, kecenderungan sufi semacam ini, adalah akibat tipu daya setan. Ilmu adalah cahaya, dan setan berusaha bagaimana sekiranya manusia dijauhkan dari cahaya, sehingga dia tersesat.
Menurut Ibnul Jauzi, ada empat kelompok sufi dalam menyikapi hal ini.  Pertama, sekelompok sufi yang tidak mau menuntut ilmu sama sekali. Mereka selalu menyepi dan beribadah terus menerus. Kedua, sufi yang mau menuntut sedikit ilmu, mereka tidak mau lama-lama menuntut ilmu. Alasan mereka, terlalu banyak menuntut ilmu, bisa berakibat cinta pangkat dan kedudukan. Mereka tidak ingin seperti itu. Ketiga, sama seperti yang kedua, tapi alasannya berbeda. Kelompok ketiga ini lebih mementingkan amal. Karena, menurut mereka, nilai seorang alim dilihat dari amaliahnya, bukan banyak dan tidaknya ilmu. Dan keempat, kelompok sufi yang lebih suka ilmu batin dari pada ilmu zahir.
Cerita al-Hiwari di atas oleh Ibnul Jauzi dianggap sebagai suatu kecerobohan. Bagaimana tidak, padahal Rasulullah memerintahkan para Sahabat agar mencatat Hadis-hadis yang disampaikan oleh beliau, “Ikatlah ilmu!” sabda Nabi. Lalu Abdullah bin Umar bertanya, “Dengan apa mengikatnya?”. Beliau menjawab, “Dengan mencatat”. Apa yang dilakukan al-Hiwari, menurut Ibnul Jauzi, adalah akibat tipu daya Iblis.
Lebih lanjut, Ibnul Jauzi menjelaskan, keengganan sekelompok sufi untuk menuntut ilmu, disebabkan mereka malas dan dianggap membuang-buang waktu. Mereka lebih senang menyepi dan terus-menerus beribadah. Kengganan mereka juga timbul karena mereka ingin mendapatkan ilmu batin, makanya mereka meninggalkan ilmu zahir. Mereka beranggapan bahwa ilmu mereka didapat langsung dari Allah, mereka merasa tidak memerlukan usaha belajar. Yang dikerjakan mereka adalah ibadah dan riyâdah (tirakat) dan berusaha membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Kecenderungan sufi yang lebih suka beribadah dan meninggalkan menuntut ilmu adalah kesalahan fatal. Sebab, yang pasti untuk bisa melakukan ibadah yang benar dan sesuai dengan syariat, membutuhkan ilmu. Hal ini tidak perlu disangsikan lagi, beribadah tanpa ilmu, maka ibadahnya ditolak, demikian kata Ibnu Ruslan dalam Zubad-nya.
Ada hal lain yang perlu digarisbawahi atas kritik Ibnul Jauzi terhadap kecenderungan sufi di atas, yaitu keengganan sufi untuk mencari ilmu zahir dan harapannya untuk mendapatkan ilmu batin. Para sufi memang mendikotomikan ilmu zahir dengan ilmu batin. Ilmu zahir adalah yang terkait dengan kewajiban lahiriah, dan ilmu batin adalah hakikat segala sesuatu.
Ibnul Jauzi tidak setuju dikotomisasi ini. Menurutnya, syariat adalah semuanya hakikat, tidak ada zahir dan tidak ada batin. Tentang cerita Nabi Musa dan Nabi Khidir--yang oleh para sufi dijadikan hujah adanya dikotomi ini-- oleh Ibnu al-Jauzi dibantah dengan argumen bahwa Nabi Khidir adalah seorang nabi yang tingkah laku dan ucapannya adalah wahyu dari Allah. Sedangkan ilmu batin yang diistilahkan dengan ilham adalah buah ilmu. Maka, jika tidak ada usaha menuntut ilmu, bagaimana mungkin bisa berbuah. Lagi pula, tanpa ilmu, sangat sulit membedakan antara ilham dari Allah atau bisikan dari setan.
Namun demikian, Ibnul Jauzi tidak menampik adanya efek positif ibadah dan riyâdhah yang dilakukan sufi. Salah satu media untuk membersihkan hati adalah ibadah dan riyâdhah. Ketika hati menjadi bersih maka cahaya hidayah Allah akan tertancap ke dalam hati. Akan tetapi, lanjut Ibnul Jauzi, tidak ada pertentangan antara beribadah dan usaha belajar. Justru dengan belajar, ilmu yang didapatkan akan membantu bagaimana cara ibadah dan riyadhah yang benar.
***
Sejatinya, memang tidak ada perbedaan antara zahir dan hakikat, keduanya adalah sama-sama dibutuhkan. Zahir yang diwakili oleh fikih dan batin yang diwakili oleh tasawuf, keduanya tidak bisa dipisahkan. Kiranya tepat apa yang di-dawuh-kan Imam Malik: “Barang siapa yang menggunakan fikih tanpa tasawuf, maka menjadi fasiq. Barangsiapa bertasawuf tanpa menggunakan fikih, maka menjadi zindiq”. Tentang hal ini kita (Ahlussunnah) sudah sepakat.
Akan tetapi, yang perlu ditegaskan adalah proses untuk mencapai keduanya (zahir dan hakikat) adalah tidak sama. Fikih sebagai ilmu zahir dicapai dengan mengaji kepada guru-guru fikih yang sudah mumpuni dalam bidangnya dan juga dengan menelaah kitab-kitab fikih. Sedangkan tasawuf memerlukan mujâhadah, riyâdhah dan lainnya.
Namun, sekali lagi, ber-mujâhadah dan riyâdhah ada ilmunya. Para sufi telah membuat aturan khusus untuk bisa memasuki dunia mereka dan untuk meraih hakikat. Yang jelas, aturan-aturan zahir harus dipenuhi terlebih dahulu, sebelum terjun ke hakikat. Oleh karena itu, Imam al-Ghazali dalam Minhâj al-‘Abidîn-nya menyebutkan ilmu sebagai rintangan (‘aqabah) pertama yang harus dilalui oleh seorang sâlik. Beliau menjelaskan, yang harus pertamakali dipelajari dan diketahui adalah ilmu yang terkait dengan kewajiban-kewajiban yang bersifat personal (fardhu ‘ain), yaitu ilmu tauhid, ilmu yang terkait dengan hati (ilmus-sirri) dan ilmu syariat (fikih).  
***
Ilmu merupakan asas pokok dalam segala hal. Tanpa ilmu, tidak akan bisa dibedakan mana yang benar dan mana yang salah. Terkadang kita mengira sedang melakukan perbuatan baik, namun sebenarnya kita melakukan perbuatan buruk, disebabkan kita tidak tahu ilmunya. Maka, menjadi jelaslah antara keutamaan seorang yang berilmu dan yang tidak, sebagaimana banyak dijelaskan di al-Qur’an, Hadis dan pernyataan para ulama.
Hanya saja, keutamaan ilmu dan orang yang berilmu bisa terwujudkan, apabila diiringi dengan amaliah yang sesuai dengan ilmu yang didapatkannya. Ilmu dan ibadah adalah ibarat dua mata uang. Mencari ilmu ya untuk ibadah, ibadah ya dengan ilmu.
Banyak di antara kita yang tertipu dengan keutamaan ilmu dan ahlinya, sampai-sampai kita meninggalkan ibadah dan sibuk dengan belajar. Ini juga merupakan tipu daya setan. Menuntut ilmu sambil beribadah bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, Imam asy-Syafi‘i bisa membagi waktunya untuk belajar dan ibadah bahkan untuk istirahat. Beliau membagi tiga waktu pada tiap malamnya; sepertiga malam pertama untuk belajar, sepertiga kedua untuk ibadah dan sepertiga ketiga untuk istirahat.
Ada pesan penting yang disampaikan Imam Hasan al-Bashri  (w.110 H) bagi kita yang mungkin terlalu sibuk belajar tanpa ada ibadah sama sekali, beliau berkata, “Carilah ilmu yang sekiranya tidak menggganggu ibadahmu, dan carilah ibadah yang sekiranya tidak mengganggu belajarmu”. 

Jadilah Wanita Cantik yang Terhormat

Jadilah Wanita Cantik yang Terhormat
Islam memang tidak menentukan konsep yang pasti mengenai kriteria “wanita cantik”, dan juga tidak menentukan bagaimana penampilan seorang wanita agar nampak lebih cantik. Islam hanya membahas konsep tentang bagaimana wanita Muslimah harus berpenampilan pada berbagai kesempatan, dan kepada siapa saja ia dapat sepenuhnya menunjukkan kecantikannya.
Di depan pria lain, tentu wanita wajib berpenampilan sesuai dengan syariat; menutupi seluruh bagian tubuh, termasuk leher, kaki, dan rambut—meski hanya sehelai saja—selain wajah dan kedua dampal tangan. (QS. an-Nur [24]: 31) Di samping itu, busana yang ia kenakan tidak boleh terlalu tipis sehingga kulitnya bisa kelihatan, dan juga tidak boleh terlalu ketat sehingga tampak bentuk lekuk tubuhnya.
Di depan suami, ia dianjurkan melakukan tindakan-tindakan tertentu yang membikin penampilannya lebih menarik hati, seperti bersolek dan berpenampilan rapi dan bersih. Namun perlu dicamkan, ketika melakukan upaya mempercantik diri—seperti memperindah bentuk tubuh atau memutihkan wajah—ia harus menyadari bahwa itu semua semata-mata untuk meraih pahala dan rida Allah I.
Dengan demikian, intisari kecantikan wanita dalam agama Islam, jika sudah sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah I. Tidak mengesampingkan aturan tersebut dan malah menuruti hawa nafsu. Tidak boleh mengikuti ketentuan-ketentuan yang murni ditetapkan oleh pemikiran manusia. Lebih-lebih pandangan hidup sekuler Barat yang cenderung menyuguhkan konsep kebebasan. Kita harus tetap berpegang teguh kepada sabda Nabi r, bahwa wanita shalihah adalah (seperti) perhiasan dunia yang paling mahal dan bernilai.
Kita bandingkan antara perhiasan mahal dan perhiasan murah. Perhiasan mahal biasanya memiliki ciri-ciri: 1) dijual di toko berkelas; 2) disimpan di etalase yang hanya bisa dipandang dari balik kaca; 3) disegel, tidak bisa dibuka dan disentuh; 4) tidak boleh dicoba dulu; 5) harganya mahal dengan jaminan memuaskan; dan 6) bergaransi. Sedangkan perhiasan murah biasanya memiliki ciri-ciri: 1) ada di toko murah, di emperan, atau di pasar; 2) tidak disegel; 3) diobral; 4) boleh dicoba, bebas disentuh, dipegang, dicoba berulang kali oleh banyak orang; 5) setelah dicoba boleh tidak jadi dibeli; dan 6) tidak ada garansi. Islam memperlakukan wanita persis seperti perhiasan mahal.
Pengertian filosifi dari perbandingan di atas: “toko berkelas” adalah keluarga Muslim yang bermartabat dan taat pada agama; “disegel, tidak bisa dibuka dan disentuh” adalah prinsip di balik busana muslimahnya; “tidak bisa dicoba dulu” adalah prinsip menjaga kehormatan dengan tidak bisa dicumbui atau digauli tanpa dinikahi dulu; “harganya mahal” adalah pembelinya harus pria yang juga “mahal”. Pria murahan tidak akan sanggup “membeli” wanita mahal karena tidak akan berani, segan, malu mendapatkannya, dan merasa dirinya tidak seimbang; “bergaransi” adalah orisinal, dijamin masih steril, perawan, dan belum pernah disentuh pria lain.
Jelas, menutupi aurat adalah menjaga diri, menyegel diri, menghormati diri, dan memuliakan diri. Wanita yang menutupi aurat dengan benar adalah perhiasan mahal yang tersimpan dalam etalase, terjaga dalam sebuah kotak yang tidak bisa dibuka, tersegel, tidak bisa disentuh, dan harganya mahal. Sebaliknya, wanita yang membuka aurat, mulai dari betis, paha, lengan, rambut, leher, dada, apalagi lebih dari itu, adalah “barang obralan” yang murah, tidak perlu repot-repot ingin membukanya karena ia sudah membukanya sendiri secara “gratis”, silakan bebas menatapnya, bahkan menyentuh, meraba, mencicipi, dan menikmatinya. Kalau semisal sudah jemu, atau tidak cocok, boleh tidak jadi memilikinya. Jadilah ia barang bekas alias sampah. Barang bekas tentu murah dan tidak berkualitas, karena sudah pernah dipakai.
Mengapa wanita yang seharusnya mahal menjadi murah? Sebagaimana penjelasan Nabi r, karena hilangnya rasa malu: “Al-hayâ’u minal-îmân” (malu itu sebagian dari iman). “Iman itu ada tujuh puluh cabang dan malu adalah salah satunya.” (HR. Muslim).
Sehubungan dengan ilustrasi perhiasan mahal tadi, sering bermunculan pertanyaan-pertanyaan “konyol” sebagai berikut: pertama, bagaimana dengan wanita yang menutupi aurat tapi tidak menjaga akhlak, bebas berpacaran, bermesraan, dan banyak disentuh, apalagi sudah tidak perawan? Ia adalah “barang mahal” yang palsu, aslinya murah, bungkusnya pun murah, kerudungnya hanya tren, mode, atau ikut-ikutan, sehingga gampang dibuka, dan bahkan dicoba;
Kedua, bagaimana dengan wanita yang merasa tidak perlu menutupi aurat, yang penting bisa menjaga diri? Itu hanya alasan belum bisa taat pada agama. Kalau benar-benar bisa menjaga diri, ia adalah barang mahal yang diobral. Barang bagus yang diobral tetap saja lebih murah dan lebih rendah nilainya dari barang mahal yang tidak diobral;
Ketiga, bagaimana dengan wanita yang mengatakan: “Ah, yang berkerudung juga banyak yang kelakuannya parah, mendingan begini, ndak berkerudung tapi punya prinsip”? Itu artinya menutupi kesalahan dengan kesalahan lain. “Berkerudung tapi kelakuannya parah” adalah salah, “mendingan begini, ndak berkerudung tapi punya prinsip” juga salah. Jadi, ia lari dari satu kesalahan dan bersembunyi dalam kesalahan lain;

Keempat, bagaimana dengan wanita yang berusaha mengotak-atik pengertian “aurat” dengan logika, kemudian berkesimpulan menutupi aurat tidak perlu? Menutupi aurat adalah perintah Allah I yang nash-nya sangat jelas dalam al-Qur’an dan Hadis, tak bisa ditawar lagi. Kalau yang menyatakan pria, berarti sedang memaksakan keinginan untuk merendahkan kaum wanita menjadi barang murahan. Kalau ia adalah wanita, secara tidak langsung sedang memerkosa dirinya dan wanita lain agar menjadi barang murahan;
Kelima, bagaimana dengan pemikir, sebagian tokoh, bahkan ahli tafsir kontemporer yang mengatakan menutupi aurat seluruh tubuh itu tidak perlu, karena pengertian “sebenarnya” tentang aurat, ditilik dari bahasa Arab, ulûmul-Qur’ân, ilmu Tafsir, ilmu Hadis, sejarah, dsb. bukanlah seluruh tubuh kecuali muka dan dampal tangan? Seluas apapun ilmunya, ia sedang melegitimasi penolakannya kepada perintah Allah I dan tuntunan Nabi r dengan pemikirannya, yang berdasarkan hawa nafsu tapi mengatasnamakan ilmu agama. Ini paling berat pertanggungjawabannya kelak di akhirat.
Keenam, karena masih ada sebagian “orang pintar” dan “ahli agama” yang memperdebatkan, bagaimana sebenarnya batasan aurat yang pasti bagi wanita? Yang jelas, aurat yang diperintahkan Allah I untuk ditutupi ketika salat, adalah batasan aurat yang pasti. Tidak bisa ditawar lagi (baca: dikurangi). Mengenai pendapat yang menyatakan seluruh anggota tubuh, itu masih kontroversial. Tapi untuk lebih hati-hati, alangkah baiknya mengikuti pendapat ini. Wallâhu a’lam! [IJTIHAD]