Setiap wanita pasti tak lepas dari keinginan untuk selalu terlihat
cantik. Namun apakah makna dari cantik itu sebenarnya? Kebanyakkan dari
wanita memakanai cantik itu seperti bintang iklan sabun mandi atau
artis di televisi tapi kebanayakkan wanita tidak mengetahui makna cantik sebenarnya menurut Al Qur’an dan Islam.
Mari bersama kita mengetahui apa itu cantik menurut Al Qur’an dan Islam.
Menurut buku Ensiklopedi kata-kata Al Qur’an AL Karim yang di keluarkan oleh Dewan Bahasa Arab,Kecantikan di maknai dengan keanggunan,kehalusan dan keelokan.
Ada juga yang mengartikan kecantikan dalam kasad mata yaitu hal yang indah yang dapat membuat seseorang menjadi suka dan mencintai.
Kecantikan tidak hanya di berikan kepada manusia saja tetapi kepada
segala sesuatu di alam raya ini dari ciptaan ALLAH yang indah termasuk
di dalamnya hewan dan tumbuhan.Bukan pada alam semesta dan isinya saja
kecantikan dapat diberikan tapi juga kepada sifat manusia,akhlak dan
tabiatnya serta tutur katanya yang indah.
Nah,bagaimana kecantikan dalam pandangan islam?
Islam adalah agama yang menyeru pada kecantikan dan keindahan. Dimana
kecantikan itu berupa kecantikan maknawi yaitu kecantikan berupa
jiwa,akhlak,sifat dan sikap.
Karena itu dapat kita lihat di dalam Al Qur’an Al Karim kecantikan wajah
atau penampilan fisik pria ataupun wanita jarang disebut,kecuali hanya
dua kali saja. Pada penyebutan pertama ALLAH memperingatkan Rasulullah
untuk tidak tertipu pada kecantikan fisik orang-orang munafik karena
penampilan seseorang tidak mencerminkan siapa dirinya.
Seperti dalam firman ALLAH AZZA WA JALLA:”Dan
apabila kamu melihat mereka,tubuh-tubuh mereka membuatmu kagum. Dan
jika mereka berkata-kata,kamu mendengarkan mereka. Mereka seakan-akan
kayu yang tersandar.” (QS.Al Munafiqun:4)
Penyebutan yang kedua pada firman ALLAH: ”Tidak halal bagimu menikahi wanita-wanita sesudah itu dan tidak boleh (pula)
mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain),meskipun kecantikan
mereka menarik hatimu,kecuali wanita-wanita (hamba sahaya) yang kamu
miliki. Dan ALLAH Maha mengawasi segala sesuatu.” (QS.Al Ahzab:52)
Maksud dari ”kecantikan mereka” adalah keindahan dan kecantikan Rupa dan fisik wanita.
Al Hasan dan Asy Sya’abi mengatakan bahwa kecantikan yang di maksudkan
ALLAH dalam ayat diatas adalah kecantikan yang tersirat pada wajah
wanita bangsawan Quraisy yang bernama Asma binti Amis.
Asma binti Amis adalah istrti dari Ja’far bin Abi Thalib yang suaminya
mati syahid. Kecantikan wajah beliau sangat terkenal di kalangan kaumnya
sehingga Rasulullah Saw berkeinginan untuk menikahinya setelah beliau
memperdalam keimanan wanita itu.
Rasulullah begitu terpesona dengan kecantikannya dan berkeinginan memperistrinya.
Untuk menikahinya Rasulullah akan menceraikan salah seorang istrinya,namun ALLAH Ta’ala melarang beliau menceraikan salah seorang istrinya agar dapat menikahi Asma.
Ketika ALLAH menyebut cantik Hiasan dalam Al Qur’an, ALLAH menyebut sebagai sifat bidadari: ”Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS.Ar Rahman:70)
Kecantikan hiasan haruslah di dahului dengan kecantikan ”Khairaat” agar
kita wanita tahu bahwa seorang wanita yang baik adalah wanita yang
memiliki kecantikan sifat dan akhlak lebih baik dari pada wanita yang
memiliki kecantikan fisik dan rupa semata. Secara ringkas dapat
dikatakan bahwa dalam Al Qur’an ALLAH tidak memberikan patokan khusus
pada kecantikan fisik dan rupa bagi wanita ataupun pria.
Seperti pada Hadits Rasulullah berikut ini: ”Sesungguhnya ALLAH tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian,tapi ia melihat hati dan amal kalian.” (HR.Muslim,Ahmad dan Ibnu Majah)
Dalam Hadits lain Rasulullah mengatakan bahwa wanita shalehah adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Dari Amr ibnu ra : ”Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhisannya adalah wanita shalehah.” (HR.Muslim,Ibnu Majah dan An Nasai)
Jadi kecantikan dalam Al Qur’an dan Islam bukan di lihat pada kecantikan
fisik dan Rupa semata tapi lebih pada kecantikan Sifat,tabiat,kebaikan
hati dan akhlak seorang wanita. Wanita tidak perlu takut tidak cantik
karena setiap wanita itu cantik dan indah apabila mempunyai akhlak yang
indah pula,buat apa rupa dan fisik kita cantik tapi hati tidak cantik
karena kecantikan fisik dan rupa akan hilang seiring waktu dan usia
berlalu terkecuali bagi yang Surgary mungkin kecantikannya bertahan tapi
apa ada orang yang mau dengan yang palsu?
Kecantikan Akhlak dan kebaikan hati tidak akan pernah hilang walau di makan waktu dan usia dia akan tetap abadi.
peringatan yg baik! semoga dapat terkendali,mendapat sebuah pengalaman,dan pelajaran yg berharga dalam hidup
Senin, 30 Desember 2013
Ikhlas Dalam Beramal Ibadah Dan Amal Shaleh
Sahabat fillah...
Ikhlas dalam beramal ibadah dan amal shaleh adalah melakukan suatu amal kebaikan, dan dalam melaksanakannya ditujukan semata-mata untuk Allah. Al Quran menyuruh kita ikhlas.
Perhatikan firman-Nya sbb :
”dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik”.(QS Yunus [10]: 105).
Rasulullah SAW mengingatkan, ”Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i). Imam Ali ra juga berkata;
”Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.”
Sahabat...
Kendati bersimbah peluh, menghabiskan tenaga, menguras pikiran, kalau tidak ikhlas, sebesar apa pun amal, sia-sia di mata Allah. Maka, sangat rugi orang yang sedekah habis-habisan hanya ingin disebut dermawan. Ikhlas berarti kita tidak memanggil siapa pun selain Allah SWT untuk menjadi saksi atas perbuatan kita. Ikhlas akan membuat jiwa menjadi independen, merdeka, tidak
dibelenggu pengharapan akan pujian, tidak haus akan imbalan. Hati menjadi tenang karena ia tidak diperbudak penantian mendapat penghargaan ataupun imbalan dari makhluk.
Penantian adalah hal yang tidak nyaman, menunggu pujian atau imbalan adalah hal yang dapat meresahkan, bahkan bisa mengiris hati bila ternyata yang datang sebaliknya.. Orang yang tidak ikhlas akan banyak menemui kekecewaan dalam hidupnya, karena orang yang tidak ikhlas banyak berharap pada makhluk yang lemah.
Sahabat...
Imbalan dari manusia tidak ada apa-apanya dibanding imbalan dari Allah SWT.
Perhatikan firman Allah SWT di surah An-Nisa [4] ayat 146 :
‘’Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar’’.
Subhaanallah,,,,
Adakah yang lebih berharga dari pemberian Allah?...
Namun dalam kehidupan ini, kadang kita memang menemukan kenyataan, kalau ternyata amal ibadah atau amal kebaikan yang kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi dan tidak diketahui orang
lain, ternyata justru kadang jadi mengundang fitnah, gosip, omongan yang tidak enak tentang kita.
Mungkin karena orang lain tidak tahu kalau sebenarnya kita ini sudah melakukan amal shaleh, amal kebaikan seperti sedekah, tapi kita menyembunyikannya karena Allah. Maka karena ketidaktahuannya, orang-orang akan menilai kita ini sebagai orang yang pelit, tidak mau sedekah, tidak mau beramal saleh.
Untuk masalah seperti ini, sebaiknya jangan kita pedulikan omongan orang pada kita. Tetap saja jaga kerahasiaan amal kebaikan kita. Jangan pedulikan pandangan orang, cukup puas saja dengan pandangan Allah terhadap kita. Dan masalah omongan atau di gunjingkan yang tidak – tidak,yangmungkin mengatakan kita itu pelit, kikir dan sebagainya, kita serahkan semua pada Allah.
Dalam beramal saleh atau berbuat kebaikan, seperti sedekah dan lainnya, sebaiknya kita BENAR-BENAR MERASA CUKUP HANYA ALLAH SAJA YANG MENJADI SAKSI DARI Apa Yang Kita Lakukan, Dan yang tidak kalah penting, jangan sampai kita terjebak riya' yang samar, seperti merasa bangga apabila kita sudah berhasil menyembunyikan amal kebaikan kita, kalau kita seperti itu, maka
hancurlah amal kita.
Sahabatku fillah...
Dalam melakukan setiap amal kebaikan, yang paling mendasar yang perlu dipahami adalah, bahwa segala amal kebaikan yang kita lakukan, itu bukanlah atas kemampuan kita sendiri, tapi itu adalah karena bantuan, pertolongan dan ijin Allah.
Dengan memahami hal tersebut diatas, Insya Allah kita bisa memperbaiki amal ibadah kita dengan ikhlas, selamat dari berbangga diri karena telah berhasil melakukannya. Dan InsyaAllah bisa selamat dari riya. Serta Insya Allah, bisa melindungi kita dari keinginan mengungkapkan amal kebaikan kita dihadapan makhluk, apabila kita mendapati kenyataan diri kita digosipkan, dinilai sebagai orang yang enggan beramal kebaikan, karena kita ikhlas, maka kita menyerahkan semua pada Allah SWT.
Wallahu a’lam bishawab... ♥
Ikhlas dalam beramal ibadah dan amal shaleh adalah melakukan suatu amal kebaikan, dan dalam melaksanakannya ditujukan semata-mata untuk Allah. Al Quran menyuruh kita ikhlas.
Perhatikan firman-Nya sbb :
”dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik”.(QS Yunus [10]: 105).
Rasulullah SAW mengingatkan, ”Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i). Imam Ali ra juga berkata;
”Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.”
Sahabat...
Kendati bersimbah peluh, menghabiskan tenaga, menguras pikiran, kalau tidak ikhlas, sebesar apa pun amal, sia-sia di mata Allah. Maka, sangat rugi orang yang sedekah habis-habisan hanya ingin disebut dermawan. Ikhlas berarti kita tidak memanggil siapa pun selain Allah SWT untuk menjadi saksi atas perbuatan kita. Ikhlas akan membuat jiwa menjadi independen, merdeka, tidak
dibelenggu pengharapan akan pujian, tidak haus akan imbalan. Hati menjadi tenang karena ia tidak diperbudak penantian mendapat penghargaan ataupun imbalan dari makhluk.
Penantian adalah hal yang tidak nyaman, menunggu pujian atau imbalan adalah hal yang dapat meresahkan, bahkan bisa mengiris hati bila ternyata yang datang sebaliknya.. Orang yang tidak ikhlas akan banyak menemui kekecewaan dalam hidupnya, karena orang yang tidak ikhlas banyak berharap pada makhluk yang lemah.
Sahabat...
Imbalan dari manusia tidak ada apa-apanya dibanding imbalan dari Allah SWT.
Perhatikan firman Allah SWT di surah An-Nisa [4] ayat 146 :
‘’Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar’’.
Subhaanallah,,,,
Adakah yang lebih berharga dari pemberian Allah?...
Namun dalam kehidupan ini, kadang kita memang menemukan kenyataan, kalau ternyata amal ibadah atau amal kebaikan yang kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi dan tidak diketahui orang
lain, ternyata justru kadang jadi mengundang fitnah, gosip, omongan yang tidak enak tentang kita.
Mungkin karena orang lain tidak tahu kalau sebenarnya kita ini sudah melakukan amal shaleh, amal kebaikan seperti sedekah, tapi kita menyembunyikannya karena Allah. Maka karena ketidaktahuannya, orang-orang akan menilai kita ini sebagai orang yang pelit, tidak mau sedekah, tidak mau beramal saleh.
Untuk masalah seperti ini, sebaiknya jangan kita pedulikan omongan orang pada kita. Tetap saja jaga kerahasiaan amal kebaikan kita. Jangan pedulikan pandangan orang, cukup puas saja dengan pandangan Allah terhadap kita. Dan masalah omongan atau di gunjingkan yang tidak – tidak,yangmungkin mengatakan kita itu pelit, kikir dan sebagainya, kita serahkan semua pada Allah.
Dalam beramal saleh atau berbuat kebaikan, seperti sedekah dan lainnya, sebaiknya kita BENAR-BENAR MERASA CUKUP HANYA ALLAH SAJA YANG MENJADI SAKSI DARI Apa Yang Kita Lakukan, Dan yang tidak kalah penting, jangan sampai kita terjebak riya' yang samar, seperti merasa bangga apabila kita sudah berhasil menyembunyikan amal kebaikan kita, kalau kita seperti itu, maka
hancurlah amal kita.
Sahabatku fillah...
Dalam melakukan setiap amal kebaikan, yang paling mendasar yang perlu dipahami adalah, bahwa segala amal kebaikan yang kita lakukan, itu bukanlah atas kemampuan kita sendiri, tapi itu adalah karena bantuan, pertolongan dan ijin Allah.
Dengan memahami hal tersebut diatas, Insya Allah kita bisa memperbaiki amal ibadah kita dengan ikhlas, selamat dari berbangga diri karena telah berhasil melakukannya. Dan InsyaAllah bisa selamat dari riya. Serta Insya Allah, bisa melindungi kita dari keinginan mengungkapkan amal kebaikan kita dihadapan makhluk, apabila kita mendapati kenyataan diri kita digosipkan, dinilai sebagai orang yang enggan beramal kebaikan, karena kita ikhlas, maka kita menyerahkan semua pada Allah SWT.
Wallahu a’lam bishawab... ♥
Minggu, 15 Desember 2013
10 Pahala Mengucapkan Salam

Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian
beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila
dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam
di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah].
Seringkali kita menerima sms atau e-mail dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti "Asw" atau "Aslm". Ada yang sedikit lebih panjang seperti ; “Ass Wr Wb” atau “Aslmwrwb” . Namun yang sering saya dapatkan, adalah singkatan "Ass". Singkatan terakhir ini paling umum dan paling sering digunakan. Bagi saya, ini adalah singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau mengerti artinya.
Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. Karena itu, penulis menyarankan, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap karena sedang menyetir di jalan, misalnya, solusinya cukup mudah adalah menulis pesan to the point saja. Tulislah “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya. Ini masih lebih baik dibandingkan kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari doa keselamatan Assalamu'alaikum menjadi "Ass" (pantat).
- Hikmah Salam
Ucapan salam adalah ucapan penghormatan dan doa. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka seharusnya kita membalas dengan sebuah penghormatan pula yang lebih baik, atau minimal, balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.
Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Itulah agama kita.
Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)
- Asal Muasal Salam
Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah. Artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.
- 10 Pahala Dalam 1 Salam
Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).
Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau.
Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa baraokatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].
Satu hal lagi yang perlu diingat adalah ketika kita menuliskan kata Assalamu'alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf L nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu'alaikum.
Karena apa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan "Assaamu 'alaika ya Muhammad" (Semoga kematian dilimpahkan kepadamu).
Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari "Assalaamu 'alaikum". Maka nabi berkata, "Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu 'alaikum, maka jawablah dengan wa 'alaikum (Dan semoga atas kalian pula)." [HR. Bukhari]
Selasa, 05 November 2013
Mengobati Hati yang Buta
((العجب كل العجب ممن يهرب مما لاانفكاك له عنه و
يطلب ما لا بقاء له معه (فإنها لا تعمى الأبصار و لكن تعمى القلوب التى في
الصدور) ))
“Keajaiban yang sungguh mengherankan ialah seseorang
yang berlari dari sesuatu yang tidak mungkin lepas darinya. Dan
(kemudian) ia mencri sesuatu yang tak akan kekal bersama dirinya.
(Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah
hati yang ada di dalam dada”.(QS. Al Hajj:46)
1. Penjelasan
Allah SWT adalah Dzat yang tak akan lepas/terpisah dari seorang
manusia semenjak pertama kali ada hingga ia sampai ke dalam syurga atau
malah kekal di dalam neraka. Baik ia kafir, fasik ataupun mukmin. Baik
ia hidup di belahan bumi bagian barat maupun timur. Dalam semua keadaan,
Allah SWT pasti selalu bersamanya. Sama saja apakah ia hidup di dunia
fana ini ataupun menjalani kehidupan di akhirat kelak.
Namun kebersamaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan seorang manusia tidak
terbatasi oleh posisi atau tempat tertentu dan tentunya tidak boleh di
bayangkan dengan penggambaran-penggambaran yang menunjukkan keserupaan
Allah SWT dengan makhluk. Makna kebersamaan Allah SWT adalah bersama
dengan ilmu, perlindungan dan pengaturan.
Allah SWT adalah satu-satunya Khaliq sedangkan selain Allah adalah
makhluk. Apabila manusia hidup dengan dikelilingi berbagai macam
makhluk, maka hal itu hanyalah sementara dan pasti segera meninggalkan
atau ditinggalkannya. Mungkin ia akan mati lebih dahulu sehingga harus
meninggalkannya dan mungkin juga makhluk yang melingkupinya musnah/pergi
hingga ia berada jauh dari makhluk tersebut atau bahkan hilang sama
sekali.
Tabiat manusia biasanya akan menyukai rumah yang telah ia bangun,
perkakas-perkakas yang ia jadikan hiasan, anak dan istri, harta benda
yang telah ia usahakan, pangkat yang ia miliki atau ketenaran yang ia
nikmati dan sebagainya. Ia hanya melihat sebab dan media secara lahiriah
tanpa menyadari adanya Dzat yang menjadikan sebab-sebab tersebut.
Ia memandang hujan yang turun dari langit kemudian berterima kasih
kepada langit serta menceritakan agungnya kasih sayang langit. Saat
melihat bumi yang menghijau oleh pepohonan atau mata air yang melimpah,
maka hal itu hanya menggerakkan perasaannya untuk bersyukur kepada alam.
Mayoritas manusia beranggapan akan menjalani kehidupan yang panjang
di dunia fana ini. Mereka mengumpulkan harta kekayaan dan
menumpuk-numpuknya. Selalu mencari tambahan tanpa pernah puas karena
terlanjur tergila-gila kepadanya. Mereka menjalin persahabatan dan
koneksi-koneksi dengan mengatasnamakan sebagai perintah-perintah
ketuhanan lalu berusaha mengabadikannya, namun sebenarnya alasan mereka
hanyalah karena nafsu syahwat dan kenikmatan-kenikmatan yang ingin
mereka rasakan selama-lamanya.
Akan tetapi, apakah hukum-hukum alam akan mengijinkan keabadian
bayangan-bayangan mereka? Ataukah alam akan membiarkan ia hidup abadi
bersama kesenangan-kesenangan yang mereka inginkan?
Sebenarnya Allah SWT telah menjadikan alam ini berbicara dan bahkan
semua perkara yang ada di dunia ini berkata-kata melontarkan jawaban
pada pertanyaan di atas. Hal itu bisa kita saksikan ketika Allah SWT
menciptakan kebiasaan-kebiasaan alami yang tetap dan tidak berubah-ubah.
Fase-fase wujud kehidupan segala sesuatu pasti tersusun dari permulaan
yang lemah, semakin bertambah kekuatannya sedikit demi sedikit hingga
mencapai puncaknya kemudian kembali lemah, layu, pudar dan akan hilang
sama sekali.
Ini merupakan hukum alam yang selalu melekat kepada segala sesuatu di
alam semesta, mulai dari manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, bunga-bunga
yang bermekaran, hingga bintang-bintang dan bahkan bumi yang kita pijak
setiap hari. Contoh yang sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan
sebatang pohon. Bermula dari sebiji benih yang merekah, berubah menjadi
tumbuhan kecil lalu berkembang secara bertahap hingga mencapai
puncaknya. Kemudian dengan segera akan mengalami fase-fase semakin lemah
hingga layu dan akhirnya mati.
Kisah yang sama akan kita jumpai dalam perkembangan hidup bunga-bunga
yang tumbuh pada musim tertentu, tumbuh dan berkembang kemudian layu
dan hilang. Begitu juga matahari yang mengeluarkan sinar lemah di pagi
hari lalu semakin terang hingga mencapai puncaknya pada siang hari.
Kemudian kekuatan sinarnya akan semakin lemah hingga persis sebagaimana
keadaannya di waktu terbit lalu akhirnya hilang dari pandangan.
Semua fenomena ala mini memberitahukan kepada kita tentang akhir yang
akan menimpa segala sesuatu, yaitu musnah dan sirna. Tak lain agar kita
tidak tertipu dan terperdaya oleh kekuatan dan kejayaan yang berada di
depan kedua mata dengan iming-iming kebahagiaan yang tersimpan di balik
semuanya.
2. Dalil
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-
megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan
anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani;
kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan
ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. Al Hadid: 20)
Pemandangan yang semula tampak indah di depan mata lalu akhirnya
layu, lemah kemudian hilang seperti dalam ayat di atas akan selalu
berlaku dalam setiap kesenangan dan kemewahan duniawi yang kerap kali
membutakan manusia. Lalu bagaimana kita menyikapinya?
Akal dan logika normal akan berkata, “Eratkanlah hubungan dan
ikatanmu dengan Dzat yang menciptakan semua makhluk, yang memiliki
kehendak dan kuasa serta mengatur dan menjaga semesta raya.
Pergunakanlah apa yang kau butuhkan di dunia ini sebagai pinjaman yang
wajib di kembalikan dan ingatlah bahwa apa yang kau lihat ini hanyalah
substansi yang pasti akan segera hancur dan sirna.
Dengan begitu engkau akan melihat dan menerima perkara-perkara yang
ada di dunia ini secara lahir, namun hatimu hanya berhubungan dan
berpegangan kepada Dzat yang menciptakannya. Jika masanya selesai dan
waktu perpisahan tiba, maka engkau akan tetap bersama Dzat Yang Maha
Pencipta dan Maha Sempurna. Saat sebuah media yang ada dalam kekuasaanmu
sirna, engkau tak akan bingung mencari sebab lain sebagai pegangan yang
nantinya pun berakhir dengan kisah yang sama. Seperti seseorang yang
berdiri di atas gumpalan salju, saat matahari memanasi bumi, salju akan
melelh dan musnah. Akhirnya ia berpijak kepada bumi tanpa menyadari
bahwa keadaan bumi akhirnya juga persis seperti salju. Dengan berpegang
erat kepada Dzat yang menciptakan sebab, maka hilangnya perkara-perkara
yang ada di hadapanmu tak akan berpengaruh apa-apa bagimu. Menjauhnya
perantara tak akan berimbas buruk kepada kehidupanmu.
Setelah itu, saat episode kematian harus engkau jalani, maka takkan
ada rasa sedih atau putus asa atas perpisahanmu dengan dunia. Hal itu
karena engkau tahu bahwa dunia ini hanyalah perantara yang
mengantarkanmu menuju kehidupan yang lebih mulia. Kematian juga tidak
pernah memisahkanmu dengan teman yang selalu bersamamu dan menjadi
satu-satunya pegangan dalam hidupmu. Maut yang mendatangimu tidaklah
memutuskan hubunganmu dengan Allah Yang Maha Kuasa. Yaitu hubungan yang
telah engkau jalin selama hidup di dunia fana.
Seseorang yang menjalani hidup dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT
adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan memberi pengaruh, maka ia
pastinya akan mengalami kehidupan alam barzakh yang tidak jauh berbeda
dengan kehidupannya di bumi. Kalau ia mengalami perubahan dan pergerakan
di dunia dengan tetap selalu bersama Allah Yang Maha Pencipta, maka
ketika ia sendirian terkubur dalam perut bumi pastinya juga bersama
dengan Allah SWT. Bahkan ia akan lebih senang karena ia telah terpisah
dari materi-materi dunia yang membingungkan dan menyesatkan.
Saat hari kiamat tiba dan nyawa-nyawa dikembalikan ke dalam jasadnya
masing-masing, lalu semua manusia digiring ke hadapan Allah ‘Azza wa
Jalla, maka ia semakin bertambah gembira dan merasa bahagia. Bagaimana
tidak? Ia telah menjalani tahap demi tahap kehidupan selama ini tanpa
pernah terlepas dari Allah SWT. Sedangkan hari ini adalah waktunya untuk
menghadap Allah SWT. Pasti ia akan merasa lebih bahagia dan hubungannya
ikatannya akan semakin erat terjalin bersama Allah SWT.
3. Misteri keajaiban
Dengan demikian, layak sekali kalau sekarang ini kita bersama Ibnu
‘Athaillah terheran-heran dan terkagum-kagum kepada orang-orang yang
berlari ingin meninggalkan Tuhan yang tak mungkin kekal bersamanya. Hal
ini terjadi karena mereka hanya melihat dan mempergunakan media dan
perantara secara lahiriah, berpegangan serta mengandalkan kemewahan yang
mereka nikmati, namun mereka lupa dan lalai kepada Tuhan yang
menganugerahkan segala kenikmatan tersebut. Bahkan mungkin juga mereka
mengingkari adanya Tuhan Yang Maha Pencipta.
Kekaguman ini sangat wajar karena sebenarnya akal dan mata batin
orang tersebut telah mengetahui bahwa media yang mereka nikmati dan
mereka pergunakan adalah sesuatu yang pasti sirna dan tak akan abadi.
Logika mereka juga mengerti bahwa dalam sebab-sebab lahiriah itu telah
melekat tabiat rusak dan musnah.
Yang lebih mengherankan, setiap hari ia melihat sirnanya
kenikmatan-kenikmatan duniawi itu dan ia juga menyaksikan hilang atau
menjauhnya kesenangan meninggalkan orang-orang yang bergantung kepada
materi-materi tersebut. Semua itu benar-benar meninggalkan mereka atau
sebaliknya malah mereka sendiri yang meninggalkan segalanya. Hanya satu
yang tak pernah lepas dari mereka, yaitu Tuhan yang selalu menyertai
sepanjang hidup yang mereka jalani. Dengan kenyataan seperti ini,
ternyata ia masih mengandalkan dunia yang ada di depan mata dan bahkan
berlari menjauhi Allah, Tuhan seru sekalian alam.
Selain fakta dan kenyataan yang sangat jelas tersebut, ia sebenarnya
sangat sering mendengar nasehat serta peringatan-peringatan tentang
keburukan dan bahaya dunia. Anehnya ia masih saja berpijak kepada
sebongkah salju tanpa peduli apakah ia nantinya akan terjatuh ke dalam
jurang yang sangat dalam, ketika salju tersebut akhirnya leleh dan
mencair.
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah
laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh
orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak
mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah
disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan
cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Orang-orang kafir,
karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan
balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan
mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.”(QS. An Nur: 39)
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan
dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS.
Al Kahfi: 46)
“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan
hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah
lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?
Maksudnya, hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat
kekayaan keturunan dan sebagainya.”(QS. Al Qashash: 60)
4. Koneksi yang serasi
Menjalin hubungan dengan Allah SWT bukanlah berarti meninggalkan
materi-meteri dunia secara total. Hal itu karena dunia ini diciptakan
oleh Allah SWT sebagai anugerah yang disediakan untuk manusia
seluruhnya. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla tidak rela apabila manusia
berpaling sama sekali meninggalkan dunia.
Seorang muslim hanyalah dituntut agar ia yakin dengan
sebenar-benarnya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang
memberikan anugerah dan pemberian. Dengan begitu ia tidak akan mencari
rizqi selain dari Allah SWT. Ia harus tahu hanya Allah –lah yang
menciptakan semua sebab yang timbul di dunia ini. Akhirnya ia tidak akan
menyangka bahwa sebab-sebab lahiriah itu mempunyai pengaruh-pengaruh
yang harus di perhitungkan. Ia harus sadar bahwa dunia yang tampak elok
dan sedap di pandang serta enak untuk dinikmati, itu pasti akan segera
pergi atau bahkan sirna sama sekali. Tak ada teman, sahabat, keluarga
ataupun kekasih yang setia bersamanya selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Dengan keyakinan seperti ini, maka ia tidak akan pernah condong
kepada dunia. Segenap jiwanya hanya tertertuju kepada Allah SWT,
satu-satunya Dzat yang menjadi pelipur lara hatinya, tempat berlindung
serta sumber kebahagiaannya. Itulah keadaan seorang mu’min sejati.
Secara lahir ia menggunakan berbagai sarana dunia, namun hatinya
hanya meyakini bahwa Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan semua itu.
Hatinya selalu ingat dan terhubung kepada Allah yang menganugerahkan
segala macam nikmat. Saat perasaan takut menghampiri, tak ada tempat
pengaduan dan tempat berlindung selain Allah ‘Azza wa Jalla. Jiwanya
senantiasa diliputi ketenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.
5. Kisah teladan
Seorang lelaki shalih harus meninggalkan desanya karena suatu
tuntutan urusan keagamaan. Ia memutuskan sebuah desa baru sebagai tempat
tinggalnya. Suatu saat, seorang imam masjid yang menjadi tempat biasa
shalat sang lelaki tersebut berkenalan dengannya. Si imam masjid
bertanya mengenai sumber perekonomian sang lelaki hingga kemudian ia
menjawab dengan tenang bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah
melupakannya.
Setelah beberapa hari berlalu, syaikh imam masjid kembali menanyakan
keadaan sang lelaki shalih dan ingin tahu lebih jelas tentang sumber
penghidupannya. Lelaki itupun meyakinkan kembali bahwa Allah SWT selalu
memberikan anugerah kepadanya dan ia sama sekali tidak merasakan
kesulitan dalam hal rizqi.
Jawaban tersebut ternyata belum memuaskan sang imam masjid, sehingga
dalam pertemuan yang ketiga ia bertanya lagi kepada si lelaki shalih,
“Dari mana sesungguhnya engkau mendapatkan penghidupan?”, si lelaki
menjawab, “Sebenarnya di desa ini ada seorang Yahudi yang mengenal dan
mengerti kondisiku. Ia kemudian mengirimkan sebagian hartanya kepadaku,
hingga cukup untuk memnuhi kebutuhanku sehari-hari”.
Syaikh imam masjid berkata, “baiklah kalau begitu, sungguh baru
sekarang kegelisahanku yang selama ini menyelimutiku, hilang dan sirna”.
Lelaki shalih tersebut kemudian menimpali, “Wahai orang yang ada di
depanku, sunggu aku bersumpah untuk melakukan qadha’ atas shalat-shalat
yang aku dirikan di belakangmu. (kiasan bahwa pada saat itu, sang imam
berada dalam keadaan yang kurang sempurna imannya). Berkali-kali aku
telah meyakinkanmu, sesungguhnya Allah SWT telah menjamin rizqiku dan
tak akan melupakanku, tapi mengapa hal itu belum bisa menenangkanmu.
Namun sebaliknya, saat aku memberitahukan kepadamu bahwa yang membantu
permasalahan rizqiku adalah seorang Yahudi, engkau baru percaya akan
adanya jaminan dan tanggungan Allah SWT.
Seperti itulah keadaan sebagian besar kaum muslim dewasa ini. Mereka
mengagungkan dan membangga-banggakan materi serta bentuk-bentuk
lahiriah, hingga melalaikan siapa yang menciptakan semua itu. Akhirnya
mereka hidup dalam imajinasi dan khayalan, tanpa mengerti substansi
sebenarnya. Mereka terperangkap oleh fatamorgana yang tiada berwujud
nyata, sehingga lupa kepada Dzat yang memiliki eksistensi paling nyata
memenuhi semesta raya. Mereka berbicara mengenai kasih sayang langit,
namun tak menyadari Dzat yang menciptakan dan sangat mengasihinya.
Mereka tak memperhitungkan tangan yang penuh belas kasih, menyuapkan
sendok yang berisi makanan ke dalam mulut mereka, namun malah
membangga-banggakan sendok yang menuangkan makanan, mengisi sudut-sudut
mulut mereka.
6. Di balik misteri
Ibnu ‘Athaillah mengakhiri hikmah ini dengan sebuah firman Allah ‘Azza wa Jalla,
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.(QS. Al Hajj: 46)
Bersihkan Hatimu dengan Berdzikir kepada Allah
Seseorang akan bertambah dekat kepada Allah dengan cara memperbanyak
dzikir dan tafakkur atau berangan-angan atas kebesaran Allah serta
selalu bertawakkal kepada Allah . banyak sekali orang yang pintar
menjadi pemimpin serta banyak hartanya tetapi terkadang mereka lupa dari
mana asalnya semua itu.
Marilah Sedikit kita tengok sejarah Firaun yang ketika itu diuji oleh
Allah dengan kekayaan dan kekuasaan akhirnya menjadi orang yang
terla’nat karena kesombongan yang membuat dirinya mengaku sebagai Tuhan.
Juga ceritanya si Qorun yang semua kekayaanya oleh Allah dimasukkan ke
dalam tanah karena kesombongan dan kebanggaanya dan cerita Tsa’labah
yang terkena adzab dari Allah S.W.T karena dengan keras menolak
Rasulullah untuk mengeluarkan zakat. Dan masih banyak cerita-cerita
lainya yang patut kita jadikan sebagai peringatan bagi diri kita.
Dengan merenungi banyak kejadian yang sudah lewat maka percuma saja
jika kita bersedekah dengan mengeluarkan banyak harta dan banyak tenaga
kalau ternyata niat kita untuk selain Allah. Rasulullah S.A.W
menjelaskan bahwa semua amal dan perbuatan itu tergantung pada niatnya
“ ا نما الاعما ل باالنيات وا نما لكل امرء ما نوا "
‘Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya.
Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia
niatkan”.
Dengan ketegasan dalil tersebut maka kita harus membersihkan hati
kita dan melakukan amal kebaikan diniati hanya karena Allah. Jadi,
apabila kita banyak bersedekah dan melakukan kebaikan tetapi diniati
karena dunia maka tidak akan ada hasilnya di akhirat nanti . Sering kita
mendengar bahwa yang namanya dunia adalah sesautu yang tidak ada
manfaatnya di akhirat seperti yang telah ditegaskan oleh para Ulama’,
“ الدّنيا كل ما لا ينفع في الأ خرة "
Artinya : “ Dunia adalah sesuatu yang tidak ada manfaatnya didalam akhirat”.
Jadi ketika amalan –amalan di dunia itu diniati untuk akhirat maka akan membuahkan hasil di akhirat kelak.
Semua amalan yang diniati karena Allah itu sulit sebelum hati menjadi
bersih. Oleh karena itu, jika seseorang ingin membersihkan hatinya maka
hendaknya dia selalu memperbanyak dzikir kepada Allah dengan cara
membaca Istghfar. Dalam hal ini Rasulullah juga menganjurkan untuk
membaca istighfar setiap hari tidak kurang dari 70 atau 100 kali. Jika
hati sudah bersih maka kita akan mudah untuk memurnikan niat kita karena
Allah disamping itu kita juga akan semakin mudah dan tenang ketika
menghadapi ujian.
Di zaman yang serba modern ini banyak orang yang ketika diuji oleh
Allah tidak kuat untuk bersabar dan mereka lebih memilih jalan pintas
dengan cara bunuh diri. Mereka beranggapan bahwa ketika sudah mati
dengan cara bunuh diri masalah sudah selesai. Akan tetapi, jalan seperti
itu justru akan menjadikan masalah karena tindakan itu adalah perbuatan
dosa besar . Hati yang bersih itu ibarat pakian yang suci. Artinya
pakaian yang tidak terkena najis. kalau pakaian sudah menjadi suci dan
bersih maka orang yang melihat pun akan senang. Demikian pula hati yang
bersih akan menampakkan raut wajah yang menyenangkan. Sebagian Ulama’
juga mengomentari tentang pentingnya hati yang bersih dengan
mendawuhkan,
“ وطهر القلب وصحح النية “
Maqolah Ulama’ di atas terdapat fi’il amar yang di dalam ilmu Ushul
Fiqh menunjukkan hukum wajib. Maka dari itu membersihkan hati pun
hukumnya wajib .
Untuk itu kami khususnya diri saya sendiri mengajak seluruh pembaca
marilah kita membersihkan hati kita supaya kita bisa tambah mendekatkan
diri kita kepada Allah S.W.T dan marilah kita mendo’akan semua Masyayikh
kita semoga beliau semuanya selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh
Allah S.W.T Amin……
Senin, 04 November 2013
IMAN, ISLAM, DAN IHSAN
IMAN, ISLAM, DAN IHSAN
Hadits Arbain ke-2
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى
الله عليه وسلم ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر
, لا يرى عليه أثر السفر , ولا يعرفه منا أحد حتى جلس إلى النبي صلى الله
عليه وسلم فأسند ركبته إلى ركبتيه ووضح كفيه على فخذيه , وقال : يا محمد
أخبرني عن الإسلام , فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” الإسلام أن تشهد
أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم
رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا ” قال صدقت فعجبا له يسأله ويصدقه ,
قال : أخبرني عن الإيمان قال ” أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم
الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره ” قال : صدقت , قال : فأخبرني عن الإحسان ,
قال ” أن تعبد الله كأنك تراه , فإن لم تكن تراه فإنه يراك ” قال , فأخبرني
عن الساعة , قال ” ما المسئول بأعلم من السائل ” قال فأخبرني عن اماراتها .
قال ” أن تلد الأمة ربتها وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء
يتطاولون في البنيان ” . ثم انطلق فلبث مليا , ثم قال ” يا عمر , أتدري من
السائل ؟” , قلت : الله ورسوله أعلم , قال ” فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم
” رواه مسلم
Terjemahan:
Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anh, dia berkata: ketika kami
tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba
tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih,
berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas
perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya.
Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata,” Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam ” Rasulullah menjawab,”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata,”Engkau benar,” kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya.
Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Iman” Rasulullah menjawab,”Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk” Orang tadi berkata,” Engkau benar” Orang itu berkata lagi,”
Beritahukan kepadaku tentang Ihsan” Rasulullah menjawab,”Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.” Orang itu berkata lagi,”Beritahukan kepadaku tentang kiamat” Rasulullah menjawab,” Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.”
Selanjutnya orang itu berkata lagi,”beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya” Rasulullah menjawab,” Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.” Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab,” Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui” Rasulullah berkata,” Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu.
Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata,” Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam ” Rasulullah menjawab,”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata,”Engkau benar,” kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya.
Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Iman” Rasulullah menjawab,”Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk” Orang tadi berkata,” Engkau benar” Orang itu berkata lagi,”
Beritahukan kepadaku tentang Ihsan” Rasulullah menjawab,”Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.” Orang itu berkata lagi,”Beritahukan kepadaku tentang kiamat” Rasulullah menjawab,” Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.”
Selanjutnya orang itu berkata lagi,”beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya” Rasulullah menjawab,” Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.” Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab,” Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui” Rasulullah berkata,” Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu.
Penjelasan:
Hadits ini sangat berharga karena mencakup semua fungsi perbuatan
lahiriah dan bathiniah, serta menjadi tempat merujuk bagi semua ilmu
syari’at dan menjadi sumbernya. Oleh sebab itu hadits ini menjadi induk
ilmu sunnah.Hadits ini menunjukkan adanya contoh berpakaian yang bagus,
berperilaku yang baik dan bersih ketika datang kepada ulama, orang
terhormat atau penguasa, karena jibril datang untuk mengajarkan agama
kepada manusia dalam keadaan seperti itu.Kalimat “ Ia meletakkan kedua
telapak tangannya diatas kedua paha beliau, lalu ia berkata : Wahai
Muhammad…..” adalah riwayat yang masyhur. Nasa’i meriwayatkan dengan
kalimat, “Dan ia meletakkan kedua tangannya pada kedua lutut
Rasulullah….” Dengan demikian yang dimaksud kedua pahanya adalah kedua
lututnya.Dari hadits ini dipahami bahwa islam dan iman adalah dua hal
yang berbeda, baik secara bahasa maupun syari’at. Namun terkadang, dalam
pengertian syari’at, kata islam dipakai dengan makna iman dan
sebaliknya.
Kalimat, “Kami heran, dia bertanya tetapi dia sendiri yang
membenarkannya” mereka para shahabat Rasulullah menjadi heran atas
kejadian tersebut, karena orang yang datang kepada Rasulullah hanya
dikenal oleh beliau dan orang itu belum pernah mereka ketahui bertemu
dengan Rasulullah dan mendengarkan sabda beliau. Kemudian ia mengajukan
pertanyaan yang ia sendiri sudah tahu jawabannya bahkan membenarkannya,
sehingga orang-orang heran dengan kejadian itu.
Kalimat, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, dan kepada kitab-kitab-Nya….” Iman kepada Allah yaitu mengakui bahwa Allah itu ada dan mempunyai sifat-sifat Agung serta sempurna, bersih dari sifat kekurangan,. Dia tunggal, benar, memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya, tidak ada yang setara dengan Dia, pencipta segala makhluk, bertindak sesuai kehendak-Nya dan melakukan segala kekuasaan-Nya sesuai keinginan-Nya.
Iman kepada Malaikat, maksudnya mengakui bahwa para malaikat adalah hamba Allah yang mulia, tidak mendahului sebelum ada perintah, dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.
Iman kepada Para Rasul Allah, maksudnya mengakui bahwa mereka jujur dalam menyampaikan segala keterangan yang diterima dari Allah dan mereka diberi mukjizat yang mengukuhkan kebenarannya, menyampaikan semua ajaran yang diterimanya, menjelaskan kepada orang-orang mukalaf apa-apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Para Rasul Allah wajib dimuliakan dan tidak boleh dibeda-bedakan.
Iman kepada hari Akhir, maksudnya mengakui adanya kiamat, termasuk hidup setelah mati, berkumpul dipadang Mahsyar, adanya perhitungan dan timbangan amal, menempuh jembatan antara surga dan neraka, serta adanya Surga dan Neraka, dan juga mengakui hal-hal lain yang tersebut dalam Qur’an dan Hadits Rosululloh.
Iman kepada taqdir yaitu mengakui semua yang tersebut diatas, ringkasnya tersebut dalam firman Allah QS. Ash-Shaffaat : 96, “Allah menciptakan kamu dan semua perbuatan kamu” dan dalam QS. Al-Qamar : 49, “Sungguh segala sesuatu telah kami ciptakan dengan ukuran tertentu” dan di ayat-ayat yang lain.
Demikian juga dalam Hadits Rasulullah, Dari Ibnu Abbas, “Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan suatu keuntungan kepadamu, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang Allah telah tetapkan pada dirimu. Sekiranya merekapun berkumpul untuk melakukan suatu yang membahayakan dirimu, niscaya tidak akan membahayakan dirimu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”Para Ulama mengatakan, Barangsiapa membenarkan segala urusan dengan sungguh-sungguh lagi penuh keyakinan tidak sedikitpun terbersit keraguan, maka dia adalah mukmin sejati.
Kalimat, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya….” Pada pokoknya merujuk pada kekhusyu’an dalam beribadah, memperhatikan hak Allah dan menyadari adanya pengawasan Allah kepadanya serta keagungan dan kebesaran Allah selama menjalankan ibadah.
Kalimat, “Beritahukan kepadaku tanda-tandanya ? sabda beliau : Budak perempuan melahirkan anak tuannya” maksudnya kaum muslimin kelak akan menguasai negeri kafir, sehingga banyak tawanan, maka budak-budak banyak melahirkan anak tuannya dan anak ini akan menempati posisi majikan karena kedudukan bapaknya. Hal ini menjadi sebagian tanda-tanda kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa itu menunjukkan kerusakan umat manusia sehingga orang-orang terhormat menjual budak yang menjadi ibu dari anak-anaknya, sehingga berpindah-pindah tangan yang mungkin sekali akan jatuh ke tangan anak kandungnya tanpa disadarinya.
Hadits ini juga menyatakan adanya larangan berlomba-lomba membangun bangunan yang sama sekali tidak dibutuhkan. Sebagaimana sabda Rasulullah,” Anak adam diberi pahala untuk setiap belanja yang dikeluarkannya kecuali belanja untuk mendirikan bangunan”
Kalimat, “Penggembala Domba” secara khusus disebutkan karena merekalah yang merupakan golongan badui yang paling lemah sehingga umumnya tidak mampu mendirikan bangunan, berbeda dengan para pemilik onta yang umumnya orang terhormat.
Kalimat, “Saya tetap tinggal beberapa lama” maksudnya Umar radhiallahu ‘anh tetap tinggal ditempat itu beberapa lama setelah orang yang bertanya pergi, dalam riwayat yang lain yang dimaksud tetap tinggal adalah Rosululloh.
Kalimat, “Ia datang kepada kamu sekalian untuk mengajarkan agamamu” maksudnya mengajarkan pokok-pokok agamamu, demikian kata Syaikh Muhyidin An Nawawi dalam syarah shahih muslim. Isi hadits ini yang terpenting adalah penjelasan islam, iman dan ihsan, serta kewajiban beriman kepada Taqdir Allah Ta’ala.
Sesungguhnya keimanan seseorang dapat bertambah dan berkurang, QS. Al-Fath : 4, “Untuk menambah keimanan mereka pada keimanan yang sudah ada sebelumnya”. Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya bahwa ibnu Abu Mulaikah berkata, “Aku temukan ada 30 orang shahabat Rasulullah yang khawatir ada sifat kemunafikan dalam dirinya. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mengatakan bahwa ia memiliki keimanan seperti halnya keimanan Jibril dan Mikail ‘alaihimus salaam”
Kata iman mencakup pengertian kata islam dan semua bentuk ketaatan yang tersebut dalam hadits ini, karena semua hal tersebut merupakan perwujudan dari keyakinan yang ada dalam bathin yang menjadi tempat keimanan. Oleh karena itu kata Mukmin secara mutlak tidak dapat diterapkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar atau meninggalkan kewajiban agama, sebab suatu istilah harus menunjukkan pengertian yang lengkap dan tidak boleh dikurangi, kecuali dengan maksud tertentu. Juga dibolehkan menggunakan kata Tidak beriman sebagaimana pengertian hadits Rasulullah, “Seseorang tidak berzina ketika dia beriman dan tidak mencuri ketika dia beriman” maksudnya seseorang dikatakan tidak beriman ketika berzina atau ketika dia mencuri.
Kata islam mencakup makna iman dan makna ketaatan, syaikh Abu ‘Umar berkata, “kata iman dan islam terkadang pengertiannya sama terkadang berbeda. Setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin” ia berkata, “pernyataan seperti ini sesuai dengan kebenaran” Keterangan-keterangan Al-Qur’an dan Assunnah berkenaan dengan iman dan islam sering dipahami keliru oleh orang-orang awam. Apa yang telah kami jelaskan diatas telah sesuai dengan pendirian jumhur ulama ahli hadits dan lain-lain. Wallahu a’lam.
Kalimat, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, dan kepada kitab-kitab-Nya….” Iman kepada Allah yaitu mengakui bahwa Allah itu ada dan mempunyai sifat-sifat Agung serta sempurna, bersih dari sifat kekurangan,. Dia tunggal, benar, memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya, tidak ada yang setara dengan Dia, pencipta segala makhluk, bertindak sesuai kehendak-Nya dan melakukan segala kekuasaan-Nya sesuai keinginan-Nya.
Iman kepada Malaikat, maksudnya mengakui bahwa para malaikat adalah hamba Allah yang mulia, tidak mendahului sebelum ada perintah, dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.
Iman kepada Para Rasul Allah, maksudnya mengakui bahwa mereka jujur dalam menyampaikan segala keterangan yang diterima dari Allah dan mereka diberi mukjizat yang mengukuhkan kebenarannya, menyampaikan semua ajaran yang diterimanya, menjelaskan kepada orang-orang mukalaf apa-apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Para Rasul Allah wajib dimuliakan dan tidak boleh dibeda-bedakan.
Iman kepada hari Akhir, maksudnya mengakui adanya kiamat, termasuk hidup setelah mati, berkumpul dipadang Mahsyar, adanya perhitungan dan timbangan amal, menempuh jembatan antara surga dan neraka, serta adanya Surga dan Neraka, dan juga mengakui hal-hal lain yang tersebut dalam Qur’an dan Hadits Rosululloh.
Iman kepada taqdir yaitu mengakui semua yang tersebut diatas, ringkasnya tersebut dalam firman Allah QS. Ash-Shaffaat : 96, “Allah menciptakan kamu dan semua perbuatan kamu” dan dalam QS. Al-Qamar : 49, “Sungguh segala sesuatu telah kami ciptakan dengan ukuran tertentu” dan di ayat-ayat yang lain.
Demikian juga dalam Hadits Rasulullah, Dari Ibnu Abbas, “Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan suatu keuntungan kepadamu, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang Allah telah tetapkan pada dirimu. Sekiranya merekapun berkumpul untuk melakukan suatu yang membahayakan dirimu, niscaya tidak akan membahayakan dirimu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”Para Ulama mengatakan, Barangsiapa membenarkan segala urusan dengan sungguh-sungguh lagi penuh keyakinan tidak sedikitpun terbersit keraguan, maka dia adalah mukmin sejati.
Kalimat, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya….” Pada pokoknya merujuk pada kekhusyu’an dalam beribadah, memperhatikan hak Allah dan menyadari adanya pengawasan Allah kepadanya serta keagungan dan kebesaran Allah selama menjalankan ibadah.
Kalimat, “Beritahukan kepadaku tanda-tandanya ? sabda beliau : Budak perempuan melahirkan anak tuannya” maksudnya kaum muslimin kelak akan menguasai negeri kafir, sehingga banyak tawanan, maka budak-budak banyak melahirkan anak tuannya dan anak ini akan menempati posisi majikan karena kedudukan bapaknya. Hal ini menjadi sebagian tanda-tanda kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa itu menunjukkan kerusakan umat manusia sehingga orang-orang terhormat menjual budak yang menjadi ibu dari anak-anaknya, sehingga berpindah-pindah tangan yang mungkin sekali akan jatuh ke tangan anak kandungnya tanpa disadarinya.
Hadits ini juga menyatakan adanya larangan berlomba-lomba membangun bangunan yang sama sekali tidak dibutuhkan. Sebagaimana sabda Rasulullah,” Anak adam diberi pahala untuk setiap belanja yang dikeluarkannya kecuali belanja untuk mendirikan bangunan”
Kalimat, “Penggembala Domba” secara khusus disebutkan karena merekalah yang merupakan golongan badui yang paling lemah sehingga umumnya tidak mampu mendirikan bangunan, berbeda dengan para pemilik onta yang umumnya orang terhormat.
Kalimat, “Saya tetap tinggal beberapa lama” maksudnya Umar radhiallahu ‘anh tetap tinggal ditempat itu beberapa lama setelah orang yang bertanya pergi, dalam riwayat yang lain yang dimaksud tetap tinggal adalah Rosululloh.
Kalimat, “Ia datang kepada kamu sekalian untuk mengajarkan agamamu” maksudnya mengajarkan pokok-pokok agamamu, demikian kata Syaikh Muhyidin An Nawawi dalam syarah shahih muslim. Isi hadits ini yang terpenting adalah penjelasan islam, iman dan ihsan, serta kewajiban beriman kepada Taqdir Allah Ta’ala.
Sesungguhnya keimanan seseorang dapat bertambah dan berkurang, QS. Al-Fath : 4, “Untuk menambah keimanan mereka pada keimanan yang sudah ada sebelumnya”. Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya bahwa ibnu Abu Mulaikah berkata, “Aku temukan ada 30 orang shahabat Rasulullah yang khawatir ada sifat kemunafikan dalam dirinya. Tidak ada seorangpun dari mereka yang berani mengatakan bahwa ia memiliki keimanan seperti halnya keimanan Jibril dan Mikail ‘alaihimus salaam”
Kata iman mencakup pengertian kata islam dan semua bentuk ketaatan yang tersebut dalam hadits ini, karena semua hal tersebut merupakan perwujudan dari keyakinan yang ada dalam bathin yang menjadi tempat keimanan. Oleh karena itu kata Mukmin secara mutlak tidak dapat diterapkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar atau meninggalkan kewajiban agama, sebab suatu istilah harus menunjukkan pengertian yang lengkap dan tidak boleh dikurangi, kecuali dengan maksud tertentu. Juga dibolehkan menggunakan kata Tidak beriman sebagaimana pengertian hadits Rasulullah, “Seseorang tidak berzina ketika dia beriman dan tidak mencuri ketika dia beriman” maksudnya seseorang dikatakan tidak beriman ketika berzina atau ketika dia mencuri.
Kata islam mencakup makna iman dan makna ketaatan, syaikh Abu ‘Umar berkata, “kata iman dan islam terkadang pengertiannya sama terkadang berbeda. Setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin” ia berkata, “pernyataan seperti ini sesuai dengan kebenaran” Keterangan-keterangan Al-Qur’an dan Assunnah berkenaan dengan iman dan islam sering dipahami keliru oleh orang-orang awam. Apa yang telah kami jelaskan diatas telah sesuai dengan pendirian jumhur ulama ahli hadits dan lain-lain. Wallahu a’lam.
Niat dan Ikhlas
Hadits Arbain ke-1
عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول
الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما
نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت
هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه
Terjemahan:
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan
sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa
yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita
yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang
ditujunya”.[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah
Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari
(orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al
Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di
antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]
Penjelasan:Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam.
Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.
Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.
Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.
Pertama : Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya.
Misalnya, kalimat pada firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman).
(QS. Ar-Ra’d : 7)
Kalimat ini (wallahu a’lam) menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.
Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.
Kedua : Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya, walahu a’lam
Ketiga : Kalimat “Dan Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya.
Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Wallahu a’lam
Penjelasan:Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam.
Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.
Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.
Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.
Pertama : Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya.
Misalnya, kalimat pada firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman).
(QS. Ar-Ra’d : 7)
Kalimat ini secara sepintas menyatakan
bahwa tugas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan
ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya
beliau mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar
gembira dan lain sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah :
“Innamal hayatud dunyaa la’ibun walahwun” à “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”. (QS. Muhammad : 36)Kalimat ini (wallahu a’lam) menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.
Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.
Kedua : Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya, walahu a’lam
Ketiga : Kalimat “Dan Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya.
Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Wallahu a’lam
Biografi Lengkap Imam Bukhari
Biografi Lengkap Imam Bukhari
Sebelum pada paparan Biografi Imam Bukhori, kita baca dahulu perkataan Muhammad bin Hatim Warraq Al-Bukhari rahimahullah, menceritakan,“Aku bermimpi melihat Bukhari berjalan di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap kali Nabi mengangkat telapak kakinya maka Abu Abdillah (Bukhari) pun meletakkan telapak kakinya di situ.” (Hadyu Sari, hal. 656)
Nama dan Nasab Imam Bukhari
Nama lengkap Imam Bukhori adalah Muhammad, putra dari Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah. Imam Bukhari dilahirkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H di Bukhara (Bukarest). Ketika masih kecil, ayahnya yaitu Isma’il sudah meninggal sehingga dia pun diasuh oleh sang ibu. Ghinjar dan Al-Lalika’i menceritakan bahwa ketika kecil kedua mata Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.” Pagi harinya dia dapati penglihatan anaknya telah sembuh (lihat Hadyu Sari, hal. 640)
Kekuatan Hafalan Imam Bukhari dan Kecerdasannya
Muhammad bin Abi Hatim Warraq Al Bukhari menceritakan: Aku mendengar Bukhari mengatakan, “Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis (kuttab).” Aku berkata kepadanya, “Berapakah umurmu ketika itu?” Dia menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari Kuttab, aku pun bolak-balik menghadiri majelis haditsnya Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Suatu hari tatkala membacakan hadits di hadapan orang-orang dia (Ad-Dakhili) mengatakan, ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Maka dia pun menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, ‘Rujuklah kepada sumber aslinya, jika kamu punya.’ Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah Az Zubair (bukan Abu Zubair, pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, ‘Kamu benar’. Menanggapi cerita tersebut, Bukhari ini Warraq berkata, “Biasa, itulah sifat manusia. Ketika membantahnya umurmu berapa?” Bukhari menjawab, “Sebelas tahun.” (Hadyu Sari, hal. 640)
Hasyid bin Isma’il mengatakan: Dahulu Bukhari biasa ikut bersama kami bolak-balik menghadiri pelajaran para masayikh (para ulama) di Bashrah, pada saat itu dia masih kecil. Dia tidak pernah mencatat, sampai-sampai berlalu beberapa hari lamanya. Setelah 6 hari berlalu kami pun mencela kelakuannya. Menanggapi hal itu dia mengatakan, “Kalian merasa memiliki lebih banyak hadits daripada aku. Cobalah kalian tunjukkan kepadaku hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadits tersebut. Lalu ternyata dia menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dia membacakan hadits-hadits itu semua dengan ingatan (di luar kepala), sampai-sampai kami pun akhirnya harus membetulkan catatan-catatan kami yang salah dengan berpedoman kepada hafalannya (Hadyu Sari, hal. 641)
Telah bercerita Muhammad bin Al Azhar As Sijistani rahimahullah : Dahulu aku ikut hadir dalam majelis Sulaiman bin Harb sedangkan Bukhari juga ikut bersama kami. Dia hanya mendengarkan dan tidak mencatat. Ada orang yang bertanya kepada sebagian orang yang hadir ketika itu, “Mengapa dia tidak mencatat?” Maka orang itu pun menjawab, “Dia akan kembali ke Bukhara dan menulisnya berdasarkan hafalannya.” (Hadyu Sari, hal. 641)
Suatu waktu Bukhari rahimahullah datang ke Baghdad. Para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadits yang telah dibolak-balikkan isi hadits dan sanadnya, matan yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadits ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadits yang berbeda kepada Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadits yang mereka bawakan, maka Bukhari menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini selesai, maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu, “Adapun hadits yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadits yang benar adalah demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadits beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadits yang telah dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau (lihat Hadyu Sari, hal. 652)
Muhammad bin Hamdawaih rahimahullah menceritakan: Aku pernah mendengar Bukhari mengatakan, “Aku hafal seratus ribu hadits sahih.” (Hadyu Sari, hal. 654). Bukhari rahimahullah mengatakan, “Aku menyusun kitab Al-Jami’ (Shahih Bukhari, pent) ini dari enam ratus ribu hadits yang telah aku dapatkan dalam waktu enam belas tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah.” (Hadyu Sari, hal. 656)
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah bahwa apabila Bukhari membaca Al-Qur’an maka hati, pandangan, dan pendengarannya sibuk menikmati bacaannya, dia memikirkan perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di dalamnya, dan mengetahui hukum halal dan haramnya (lihat Hadyu Sari, hal. 650)
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas jasa-jasa beliau dengan sebaik-baik balasan dan memasukkannya ke dalam Surga Firdaus yang tinggi. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dapat melanjutkan perjuangannya dalam membela Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebarkannya kepada umat manusia. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Biografi Imam Syafi’i
Biografi Imam Syafi’i
Kali ini kita akan mengenal lebih jauh sosok Ulama Islam kita, Imam Syafi’i. Dalam biografi imam syafi’i ini akan dipaparkan betapa kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu dan berdakwah di jalan Allah. Kunyah (Nama Panggilan dalam Islam) beliau Abu Abdillah, namanya Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syaafi’ bin As-Saai’b bin ‘Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al- Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.TAHUN DAN TEMPAT KELAHIRAN IMAM SYAFI’I
Beliau dilahirkan di desa Gaza, masuk kota ‘Asqolan pada tahun 150 H. Saat beliau dilahirkan ke dunia oleh ibunya yang tercinta, bapaknya tidak sempat membuainya, karena ajal Allah telah mendahuluinya dalam usia yang masih muda. Lalu setelah berumur dua tahun, paman dan ibunya membawa pindah ke kota kelahiran nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, Makkah Al Mukaramah.
PERTUMBUHAN IMAM SYAFI’I
Imam Syafi’i tumbuh dan berkembang di kota Makkah, di kota tersebut beliau ikut bergabung bersama teman-teman sebaya belajar memanah dengan tekun dan penuh semangat, sehingga kemampuannya mengungguli teman-teman lainnya. Beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam bidang ini, hingga sepuluh anak panah yang dilemparkan, sembilan di antaranya tepat mengenai sasaran dan hanya satu yang meleset.
Setelah itu beliau mempelajari tata bahasa arab dan sya’ir sampai beliau memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan dan menjadi orang yang terdepan dalam cabang ilmu tersebut. Kemudian tumbuhlah di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu agama, maka beliaupun mempelajari dan menekuni serta mendalami ilmu yang agung tersebut, sehingga beliau menjadi pemimpin dan Imam atas orang-orang
KECERDASAN IMAM SYAFI’I
Kecerdasan adalah anugerah dan karunia Allah yang diberikan kepada hambanya sebagai nikmat yang sangat besar. Di antara hal-hal yang menunjukkan kecerdasannya:
1. Kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usianya yang masih belia, tujuh tahun.
2. Cepatnya menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun.
3. Rekomendasi para ulama sezamannya atas kecerdasannya, hingga ada yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat manusia yang lebih cerdas dari Imam Asy-Syafi`i.
4. Beliau diberi wewenang berfatawa pada umur 15 tahun.
Muslim bin Khalid Az-Zanji berkata kepada Imam Asy-Syafi`i: “Berfatwalah wahai Abu Abdillah, sungguh demi Allah sekarang engkau telah berhak untuk berfatwa. ”
KESUNGGUHAN MENUTUT ILMU
Beliau mengatakan tentang menuntut ilmu, “Menuntut ilmu lebih afdhal dari shalat sunnah. ” Dan yang beliau dahulukan dalam belajar setelah hafal Al-Qur’an adalah membaca hadits. Beliau mengatakan, “Membaca hadits lebih baik dari pada shalat sunnah. ” Karena itu, setelah hafal Al-Qur’an beliau belajar kitab hadits karya Imam Malik bin Anas kepada pengarangnya langsung pada usia yang masih belia.
GURU-GURU BELIAU
Beliau mengawali mengambil ilmu dari ulama-ulama yang berada di negerinya, di antara mereka adalah:
1. Muslim bin Khalid Az-Zanji mufti Makkah
2. Muhammad bin Syafi’ paman beliau sendiri
3. Abbas kakeknya Imam Asy-Syafi`i
4. Sufyan bin Uyainah
5. Fudhail bin Iyadl, serta beberapa ulama yang lain.
Demikian juga beliau mengambil ilmu dari ulama-ulama Madinah di antara mereka adalah:
1. Malik bin Anas
2. Ibrahim bin Abu Yahya Al Aslamy Al Madany
3. Abdul Aziz Ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far dan Ibrahim bin Sa’ad serta para ulama yang berada pada tingkatannya Beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama negeri Yaman di antaranya;
1. Mutharrif bin Mazin
2. Hisyam bin Yusuf Al Qadhi, dan sejumlah ulama lainnya.
Dan di Baghdad beliau mengambil ilmu dari:
1. Muhammad bin Al Hasan, ulamanya bangsa Irak, beliau bermulazamah bersama ulama tersebut, dan mengambil darinya ilmu yang banyak.
2. Ismail bin Ulayah.
3. Abdulwahab Ats-Tsaqafy, serta yang lainnya.
MURID-MURID BELIAU
Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah:
1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli Fiqih dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin.
2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani
3. Ishaq bin Rahawaih,
4. Harmalah bin Yahya
5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi
6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.
KARYA BELIAU
Imam Syafi’i Rahimahullah mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.
Semoga kita diberi kemudahan waktu dan ilmu untuk mempelajari biografi ulama-ulama kita.
Sabtu, 02 November 2013
Belajar vs Beribadah; Pilih Mana?
Belajar vs Beribadah; Pilih Mana?
Ahmad
bin al-Hiwari menuntut ilmu (Hadis) selama 30 tahun. Ketika sudah
mencapai puncaknya, ia membawa kitab-kitabnya ke laut, lalu ia
tenggelamkan kitab-kitabnya itu. Ia berkata, “Wahai ilmu, aku tidak
bermaksud menghina dan meremehkanmu. Aku mencarimu agar aku memperoleh
hidayah yang dapat mengantarkanku kepada Tuhanku. Kini, aku telah
memperolehnya dan aku tidak lagi butuh kepadamu”.
Cerita ini dikutip oleh Ibnul Jauzi (w.597 H.) dalam Talbîsu Iblîs-nya.
Ia mengkritik doktrin segelintir sufi yang lebih suka beribadah
daripada menuntut dan mempelajari ilmu. Menurutnya, kecenderungan sufi
semacam ini, adalah akibat tipu daya setan. Ilmu adalah cahaya, dan
setan berusaha bagaimana sekiranya manusia dijauhkan dari cahaya,
sehingga dia tersesat.
Menurut
Ibnul Jauzi, ada empat kelompok sufi dalam menyikapi hal ini. Pertama,
sekelompok sufi yang tidak mau menuntut ilmu sama sekali. Mereka selalu
menyepi dan beribadah terus menerus. Kedua, sufi yang mau menuntut
sedikit ilmu, mereka tidak mau lama-lama menuntut ilmu. Alasan mereka,
terlalu banyak menuntut ilmu, bisa berakibat cinta pangkat dan
kedudukan. Mereka tidak ingin seperti itu. Ketiga, sama seperti yang
kedua, tapi alasannya berbeda. Kelompok ketiga ini lebih mementingkan
amal. Karena, menurut mereka, nilai seorang alim dilihat dari
amaliahnya, bukan banyak dan tidaknya ilmu. Dan keempat, kelompok sufi
yang lebih suka ilmu batin dari pada ilmu zahir.
Cerita
al-Hiwari di atas oleh Ibnul Jauzi dianggap sebagai suatu kecerobohan.
Bagaimana tidak, padahal Rasulullah memerintahkan para Sahabat agar
mencatat Hadis-hadis yang disampaikan oleh beliau, “Ikatlah ilmu!” sabda Nabi. Lalu Abdullah bin Umar bertanya, “Dengan apa mengikatnya?”. Beliau menjawab, “Dengan mencatat”. Apa yang dilakukan al-Hiwari, menurut Ibnul Jauzi, adalah akibat tipu daya Iblis.
Lebih
lanjut, Ibnul Jauzi menjelaskan, keengganan sekelompok sufi untuk
menuntut ilmu, disebabkan mereka malas dan dianggap membuang-buang
waktu. Mereka lebih senang menyepi dan terus-menerus beribadah.
Kengganan mereka juga timbul karena mereka ingin mendapatkan ilmu batin,
makanya mereka meninggalkan ilmu zahir. Mereka beranggapan bahwa ilmu
mereka didapat langsung dari Allah, mereka merasa tidak memerlukan usaha
belajar. Yang dikerjakan mereka adalah ibadah dan riyâdah (tirakat) dan berusaha membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Kecenderungan
sufi yang lebih suka beribadah dan meninggalkan menuntut ilmu adalah
kesalahan fatal. Sebab, yang pasti untuk bisa melakukan ibadah yang
benar dan sesuai dengan syariat, membutuhkan ilmu. Hal ini tidak perlu
disangsikan lagi, beribadah tanpa ilmu, maka ibadahnya ditolak, demikian
kata Ibnu Ruslan dalam Zubad-nya.
Ada
hal lain yang perlu digarisbawahi atas kritik Ibnul Jauzi terhadap
kecenderungan sufi di atas, yaitu keengganan sufi untuk mencari ilmu
zahir dan harapannya untuk mendapatkan ilmu batin. Para sufi memang
mendikotomikan ilmu zahir dengan ilmu batin. Ilmu zahir adalah yang
terkait dengan kewajiban lahiriah, dan ilmu batin adalah hakikat segala
sesuatu.
Ibnul
Jauzi tidak setuju dikotomisasi ini. Menurutnya, syariat adalah
semuanya hakikat, tidak ada zahir dan tidak ada batin. Tentang cerita
Nabi Musa dan Nabi Khidir--yang oleh para sufi dijadikan hujah adanya
dikotomi ini-- oleh Ibnu al-Jauzi dibantah dengan argumen bahwa Nabi
Khidir adalah seorang nabi yang tingkah laku dan ucapannya adalah wahyu
dari Allah. Sedangkan ilmu batin yang diistilahkan dengan ilham adalah
buah ilmu. Maka, jika tidak ada usaha menuntut ilmu, bagaimana mungkin
bisa berbuah. Lagi pula, tanpa ilmu, sangat sulit membedakan antara
ilham dari Allah atau bisikan dari setan.
Namun demikian, Ibnul Jauzi tidak menampik adanya efek positif ibadah dan riyâdhah yang dilakukan sufi. Salah satu media untuk membersihkan hati adalah ibadah dan riyâdhah.
Ketika hati menjadi bersih maka cahaya hidayah Allah akan tertancap ke
dalam hati. Akan tetapi, lanjut Ibnul Jauzi, tidak ada pertentangan
antara beribadah dan usaha belajar. Justru dengan belajar, ilmu yang
didapatkan akan membantu bagaimana cara ibadah dan riyadhah yang benar.
***
Sejatinya,
memang tidak ada perbedaan antara zahir dan hakikat, keduanya adalah
sama-sama dibutuhkan. Zahir yang diwakili oleh fikih dan batin yang
diwakili oleh tasawuf, keduanya tidak bisa dipisahkan. Kiranya tepat apa
yang di-dawuh-kan Imam Malik: “Barang siapa yang menggunakan fikih tanpa tasawuf, maka menjadi fasiq. Barangsiapa bertasawuf tanpa menggunakan fikih, maka menjadi zindiq”. Tentang hal ini kita (Ahlussunnah) sudah sepakat.
Akan
tetapi, yang perlu ditegaskan adalah proses untuk mencapai keduanya
(zahir dan hakikat) adalah tidak sama. Fikih sebagai ilmu zahir dicapai
dengan mengaji kepada guru-guru fikih yang sudah mumpuni dalam bidangnya
dan juga dengan menelaah kitab-kitab fikih. Sedangkan tasawuf
memerlukan mujâhadah, riyâdhah dan lainnya.
Namun, sekali lagi, ber-mujâhadah dan riyâdhah
ada ilmunya. Para sufi telah membuat aturan khusus untuk bisa memasuki
dunia mereka dan untuk meraih hakikat. Yang jelas, aturan-aturan zahir
harus dipenuhi terlebih dahulu, sebelum terjun ke hakikat. Oleh karena
itu, Imam al-Ghazali dalam Minhâj al-‘Abidîn-nya menyebutkan ilmu sebagai rintangan (‘aqabah) pertama yang harus dilalui oleh seorang sâlik.
Beliau menjelaskan, yang harus pertamakali dipelajari dan diketahui
adalah ilmu yang terkait dengan kewajiban-kewajiban yang bersifat
personal (fardhu ‘ain), yaitu ilmu tauhid, ilmu yang terkait dengan hati (ilmus-sirri) dan ilmu syariat (fikih).
***
Ilmu
merupakan asas pokok dalam segala hal. Tanpa ilmu, tidak akan bisa
dibedakan mana yang benar dan mana yang salah. Terkadang kita mengira
sedang melakukan perbuatan baik, namun sebenarnya kita melakukan
perbuatan buruk, disebabkan kita tidak tahu ilmunya. Maka, menjadi
jelaslah antara keutamaan seorang yang berilmu dan yang tidak,
sebagaimana banyak dijelaskan di al-Qur’an, Hadis dan pernyataan para
ulama.
Hanya
saja, keutamaan ilmu dan orang yang berilmu bisa terwujudkan, apabila
diiringi dengan amaliah yang sesuai dengan ilmu yang didapatkannya. Ilmu
dan ibadah adalah ibarat dua mata uang. Mencari ilmu ya untuk ibadah, ibadah ya dengan ilmu.
Banyak
di antara kita yang tertipu dengan keutamaan ilmu dan ahlinya,
sampai-sampai kita meninggalkan ibadah dan sibuk dengan belajar. Ini
juga merupakan tipu daya setan. Menuntut ilmu sambil beribadah bukanlah
sesuatu yang tidak mungkin, Imam asy-Syafi‘i bisa membagi waktunya untuk
belajar dan ibadah bahkan untuk istirahat. Beliau membagi tiga waktu
pada tiap malamnya; sepertiga malam pertama untuk belajar, sepertiga
kedua untuk ibadah dan sepertiga ketiga untuk istirahat.
Ada
pesan penting yang disampaikan Imam Hasan al-Bashri (w.110 H) bagi
kita yang mungkin terlalu sibuk belajar tanpa ada ibadah sama sekali,
beliau berkata, “Carilah ilmu yang sekiranya tidak menggganggu ibadahmu, dan carilah ibadah yang sekiranya tidak mengganggu belajarmu”.
Jadilah Wanita Cantik yang Terhormat
Jadilah Wanita Cantik yang Terhormat
Di depan pria lain, tentu wanita wajib berpenampilan sesuai dengan syariat; menutupi seluruh bagian tubuh, termasuk leher, kaki, dan rambut—meski hanya sehelai saja—selain wajah dan kedua dampal tangan. (QS. an-Nur [24]: 31) Di samping itu, busana yang ia kenakan tidak boleh terlalu tipis sehingga kulitnya bisa kelihatan, dan juga tidak boleh terlalu ketat sehingga tampak bentuk lekuk tubuhnya.
Di depan suami, ia dianjurkan melakukan tindakan-tindakan tertentu yang membikin penampilannya lebih menarik hati, seperti bersolek dan berpenampilan rapi dan bersih. Namun perlu dicamkan, ketika melakukan upaya mempercantik diri—seperti memperindah bentuk tubuh atau memutihkan wajah—ia harus menyadari bahwa itu semua semata-mata untuk meraih pahala dan rida Allah I.
Dengan demikian, intisari kecantikan wanita dalam agama Islam, jika sudah sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah I. Tidak mengesampingkan aturan tersebut dan malah menuruti hawa nafsu. Tidak boleh mengikuti ketentuan-ketentuan yang murni ditetapkan oleh pemikiran manusia. Lebih-lebih pandangan hidup sekuler Barat yang cenderung menyuguhkan konsep kebebasan. Kita harus tetap berpegang teguh kepada sabda Nabi r, bahwa wanita shalihah adalah (seperti) perhiasan dunia yang paling mahal dan bernilai.
Kita bandingkan antara perhiasan mahal dan perhiasan murah. Perhiasan mahal biasanya memiliki ciri-ciri: 1) dijual di toko berkelas; 2) disimpan di etalase yang hanya bisa dipandang dari balik kaca; 3) disegel, tidak bisa dibuka dan disentuh; 4) tidak boleh dicoba dulu; 5) harganya mahal dengan jaminan memuaskan; dan 6) bergaransi. Sedangkan perhiasan murah biasanya memiliki ciri-ciri: 1) ada di toko murah, di emperan, atau di pasar; 2) tidak disegel; 3) diobral; 4) boleh dicoba, bebas disentuh, dipegang, dicoba berulang kali oleh banyak orang; 5) setelah dicoba boleh tidak jadi dibeli; dan 6) tidak ada garansi. Islam memperlakukan wanita persis seperti perhiasan mahal.
Pengertian filosifi dari perbandingan di atas: “toko berkelas” adalah keluarga Muslim yang bermartabat dan taat pada agama; “disegel, tidak bisa dibuka dan disentuh” adalah prinsip di balik busana muslimahnya; “tidak bisa dicoba dulu” adalah prinsip menjaga kehormatan dengan tidak bisa dicumbui atau digauli tanpa dinikahi dulu; “harganya mahal” adalah pembelinya harus pria yang juga “mahal”. Pria murahan tidak akan sanggup “membeli” wanita mahal karena tidak akan berani, segan, malu mendapatkannya, dan merasa dirinya tidak seimbang; “bergaransi” adalah orisinal, dijamin masih steril, perawan, dan belum pernah disentuh pria lain.
Jelas, menutupi aurat adalah menjaga diri, menyegel diri, menghormati diri, dan memuliakan diri. Wanita yang menutupi aurat dengan benar adalah perhiasan mahal yang tersimpan dalam etalase, terjaga dalam sebuah kotak yang tidak bisa dibuka, tersegel, tidak bisa disentuh, dan harganya mahal. Sebaliknya, wanita yang membuka aurat, mulai dari betis, paha, lengan, rambut, leher, dada, apalagi lebih dari itu, adalah “barang obralan” yang murah, tidak perlu repot-repot ingin membukanya karena ia sudah membukanya sendiri secara “gratis”, silakan bebas menatapnya, bahkan menyentuh, meraba, mencicipi, dan menikmatinya. Kalau semisal sudah jemu, atau tidak cocok, boleh tidak jadi memilikinya. Jadilah ia barang bekas alias sampah. Barang bekas tentu murah dan tidak berkualitas, karena sudah pernah dipakai.
Mengapa wanita yang seharusnya mahal menjadi murah? Sebagaimana penjelasan Nabi r, karena hilangnya rasa malu: “Al-hayâ’u minal-îmân” (malu itu sebagian dari iman). “Iman itu ada tujuh puluh cabang dan malu adalah salah satunya.” (HR. Muslim).
Sehubungan dengan ilustrasi perhiasan mahal tadi, sering bermunculan pertanyaan-pertanyaan “konyol” sebagai berikut: pertama, bagaimana dengan wanita yang menutupi aurat tapi tidak menjaga akhlak, bebas berpacaran, bermesraan, dan banyak disentuh, apalagi sudah tidak perawan? Ia adalah “barang mahal” yang palsu, aslinya murah, bungkusnya pun murah, kerudungnya hanya tren, mode, atau ikut-ikutan, sehingga gampang dibuka, dan bahkan dicoba;
Kedua, bagaimana dengan wanita yang merasa tidak perlu menutupi aurat, yang penting bisa menjaga diri? Itu hanya alasan belum bisa taat pada agama. Kalau benar-benar bisa menjaga diri, ia adalah barang mahal yang diobral. Barang bagus yang diobral tetap saja lebih murah dan lebih rendah nilainya dari barang mahal yang tidak diobral;
Ketiga, bagaimana dengan wanita yang mengatakan: “Ah, yang berkerudung juga banyak yang kelakuannya parah, mendingan begini, ndak berkerudung tapi punya prinsip”? Itu artinya menutupi kesalahan dengan kesalahan lain. “Berkerudung tapi kelakuannya parah” adalah salah, “mendingan begini, ndak berkerudung tapi punya prinsip” juga salah. Jadi, ia lari dari satu kesalahan dan bersembunyi dalam kesalahan lain;
Keempat, bagaimana dengan wanita yang berusaha mengotak-atik pengertian “aurat” dengan logika, kemudian berkesimpulan menutupi aurat tidak perlu? Menutupi aurat adalah perintah Allah I yang nash-nya sangat jelas dalam al-Qur’an dan Hadis, tak bisa ditawar lagi. Kalau yang menyatakan pria, berarti sedang memaksakan keinginan untuk merendahkan kaum wanita menjadi barang murahan. Kalau ia adalah wanita, secara tidak langsung sedang memerkosa dirinya dan wanita lain agar menjadi barang murahan;
Kelima, bagaimana dengan pemikir, sebagian tokoh, bahkan ahli tafsir kontemporer yang mengatakan menutupi aurat seluruh tubuh itu tidak perlu, karena pengertian “sebenarnya” tentang aurat, ditilik dari bahasa Arab, ulûmul-Qur’ân, ilmu Tafsir, ilmu Hadis, sejarah, dsb. bukanlah seluruh tubuh kecuali muka dan dampal tangan? Seluas apapun ilmunya, ia sedang melegitimasi penolakannya kepada perintah Allah I dan tuntunan Nabi r dengan pemikirannya, yang berdasarkan hawa nafsu tapi mengatasnamakan ilmu agama. Ini paling berat pertanggungjawabannya kelak di akhirat.
Keenam, karena masih ada sebagian “orang pintar” dan “ahli agama” yang memperdebatkan, bagaimana sebenarnya batasan aurat yang pasti bagi wanita? Yang jelas, aurat yang diperintahkan Allah I untuk ditutupi ketika salat, adalah batasan aurat yang pasti. Tidak bisa ditawar lagi (baca: dikurangi). Mengenai pendapat yang menyatakan seluruh anggota tubuh, itu masih kontroversial. Tapi untuk lebih hati-hati, alangkah baiknya mengikuti pendapat ini. Wallâhu a’lam! [IJTIHAD]
Selasa, 15 Oktober 2013
Hari Raya Sebagai Hari Bahagia
Jleper : 1434 Hijriah
by : arief poll
Hari Rayaku tak pernah pergi Hari raya
mereka segera pergi." Kutipan sajak Imam
As-Syibli. tokoh sufi abad ke-6 Hijriah
As-Syibli hendak mengatakan bahwa inti
dari hari raya adlh kebahagiaannya, bukan
atribut perayaannya.
Tentu saja yang dimaksud kebahagiaan di
sini adalah kebahagiaan sejati, yakni pada saat
seseorang dekat dengan Allah.
Oleh karena itu, Imam al-Hasan al-
Bashri mengatakan." Setiap hari yang tidak
digunakan tuk kedurhakaan maka itu adalah
hari raya.
Banyak syair arab yang digubah mengenai
hari raya yang intinya adalah menggugah kita
tuk memahami hari raya secara esensial,
bukan hanya kulit.
Hari raya bisa disebut sebagai bagian dari
fitrah sosial manusia. karenanya, hampir
semua komunitas sosial atau agama
memiliki hari raya.
Ada sumber yang menyebutkan bahwa
penghancuran Berhala yang dilakukan Nabi
Ibrahim terjadi pada saat kaumnya merayakan
hari raya
Berarti, 2000 th Sebelum masehi umat
manusia sudah memiliki tradisi itu ada jauh
sebelum itu.
Dalam bahasa Arab hari raya disebut "I'D"
kata ini bermakna ,"kembali."
Ibn Asyur memberikan definisi, Id adalah
hari yang terulang/kembali dalam tiap tahun tuk
mengingat nikmat/peristiwa yang menjadi pd hari
itu.
Mengingat nikmat peristiwa itu
dilakukan semata-mata untuk bahan
perenungan sejati, bukan sekedar
seremonial tanpa arti.
Orang Arab juga sering menggunakan
kata I'd tuk menyebut hari yang digunakan
sebagai momen perkumpulan atau
perayaan.
Dalam al-Qur'an kata I'd disebut dalam kisah
permohonan Nabi Isa kpd Allah tuk
menurunkan hidangan dari langit.
Hari turunnya hidangan dari langit itu
menjadi hari raya bagi umat beliau yang hidup
pada masa itu atau setelahnya. (Qs al-Maidah :114).
Maksudnya hari itu akan menjadi hari
yang dikenang Oleh umat manusia sehingga jadi
momen syukur/renungan bagi mereka.
Pada dasarnya hari raya memang
merupakan yaumul-farah was-surur (hari gembira/bahagia).
Imam al-Ghazali menyatakan dalam kitab Ihya.
Rasulullah menoleransi beberapa bentuk ekspresi
kegembiraan (hiburan) pada saat hari raya.
Misalnya, nyanyian, tarian Habasyah dan
penabuhan rebana. Sebagaimana pula lagu
Thala'al Badru & iringan musik rebana
Namun, makna hari raya dalam islam
tidak berhenti pd yaumul-farah was-surur
dalam arti yang dangkal.
Kebahagiaan yang dimaksud dalam islam
adalah kebahagiaan yang sejati.
kebahagiaan sejati di sini dapat kita
runut melalui berbagai latar belakang
keberadaan hari raya dalam islam.
Hari raya yang diakui dalam islam ada 2,
yaitu Idul fitri dan Idul Adha. umat islam
baru bisa merayakan hari raya pd tahun ke-2 hijriah.
saat itu mereka telah memiliki kekuatan
yang mandiri & bebas dari bayang-bayang
penindasan kaum Quraisy dengan adanya hijrah ke madinah.
Karena idul fitri & idul Adha ? karena
kedua hari tersebut sama-sama merupakan
momen yang paling tepat utk berhari raya.
Idul fitri terjadi setelah muslimin
melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
Sedangkan idul Adha terjadi di ujung akhir
pelaksanaan Ibadah haji, yakni setelah hari
ARAFAH yang merupakan perkumpulan
terbesar. umat Islam.
Idul Adha memiliki momen hari raya yang kental,
selain berada dalam rangkaian ibadah Haji, Idul Adha
juga diapit oleh hari Arafah & Tasyriq.
Kedua hari pengapit juga sama-sama
memiliki semangat hari raya. Arafah merupakan
hari pertemuan besar, jamaah haji dilarang berpuasa saat itu.
Selain di hari Arafah menjadi turunnya
ayat penyempurna dalam Islam.
Sedangkan hari Tasyriq merupakan hari
makan & minum (dilarang puasa)
sebagaimana ditegaskan Rasulullah dalam hadisnya.
Lalu apa yang dirayakan saat hari raya ?
mengenai hal ini tentu ada persepsi yang
bernacam-macam, tentunya dari kalangan SUFI.
komentar Ibnu Rajab-al-hambali
berikut ini sangat pas tuk menggambarkan hari raya
sebagai hari bahagia yang hakiki.
Hari fitri menjadi hari raya bagi seluruh umat,
karena pada saat hari itu para pelaku
dosa yang telah berpuasa dibebaskan dari Neraka.
sehingga mereka bisa bergabung dengan orang-orang
yang saleh. begitu pula, hari qurban
menjadi hari raya akbar, karena terjadi
setelah hari ARAFAH.
Hari Arafah merupakan hari yang paling
banyak terjadi pembebasan dari neraka. tidak
ada yang lebih banyak dari hari ARAFAH."
komentar Ibn Rajab.
Jadi kebahagiaan esensial saat hari raya
terkait erat dengan perkembangan MORAL-
SPRITUAL dari seseorang.
Apakah momen sebelum hari raya itu
telah memberikan perubahan positif
terhadap dirinya atau tidak.
Karena itu, Ibn Rajab menutup
komentarnya dengan kalimat indah berikut ini.
"Orang yang dibebaskan dari neraka pada dua
hari raya itu, maka dua hari itu baginya
menjadi hari raya.
Sedangkan orang yang tidak mendapatkan
pembebasan pada hari itu, maka dua hari itu
baginya menjadi hari ancaman."
Jadi, kalau hari raya mau disebut hari bahagia,
tentu makna & ekspresinya bukan
kegembiraan seperti yang dipahami
Masyarakat secara umum.
Boleh jadi hari raya itu di ekspresikan dengan
perasaan takut & perasaan susah yang
bersifat Ukhrawi.
Jadi, masing-masing orang memiliki
persepsi sendiri mengenai makna
kebahagiaan di hari raya.
SEMOGA BERMANFAAT. (end).
by : arief poll
Hari Rayaku tak pernah pergi Hari raya
mereka segera pergi." Kutipan sajak Imam
As-Syibli. tokoh sufi abad ke-6 Hijriah
As-Syibli hendak mengatakan bahwa inti
dari hari raya adlh kebahagiaannya, bukan
atribut perayaannya.
Tentu saja yang dimaksud kebahagiaan di
sini adalah kebahagiaan sejati, yakni pada saat
seseorang dekat dengan Allah.
Oleh karena itu, Imam al-Hasan al-
Bashri mengatakan." Setiap hari yang tidak
digunakan tuk kedurhakaan maka itu adalah
hari raya.
Banyak syair arab yang digubah mengenai
hari raya yang intinya adalah menggugah kita
tuk memahami hari raya secara esensial,
bukan hanya kulit.
Hari raya bisa disebut sebagai bagian dari
fitrah sosial manusia. karenanya, hampir
semua komunitas sosial atau agama
memiliki hari raya.
Ada sumber yang menyebutkan bahwa
penghancuran Berhala yang dilakukan Nabi
Ibrahim terjadi pada saat kaumnya merayakan
hari raya
Berarti, 2000 th Sebelum masehi umat
manusia sudah memiliki tradisi itu ada jauh
sebelum itu.
Dalam bahasa Arab hari raya disebut "I'D"
kata ini bermakna ,"kembali."
Ibn Asyur memberikan definisi, Id adalah
hari yang terulang/kembali dalam tiap tahun tuk
mengingat nikmat/peristiwa yang menjadi pd hari
itu.
Mengingat nikmat peristiwa itu
dilakukan semata-mata untuk bahan
perenungan sejati, bukan sekedar
seremonial tanpa arti.
Orang Arab juga sering menggunakan
kata I'd tuk menyebut hari yang digunakan
sebagai momen perkumpulan atau
perayaan.
Dalam al-Qur'an kata I'd disebut dalam kisah
permohonan Nabi Isa kpd Allah tuk
menurunkan hidangan dari langit.
Hari turunnya hidangan dari langit itu
menjadi hari raya bagi umat beliau yang hidup
pada masa itu atau setelahnya. (Qs al-Maidah :114).
Maksudnya hari itu akan menjadi hari
yang dikenang Oleh umat manusia sehingga jadi
momen syukur/renungan bagi mereka.
Pada dasarnya hari raya memang
merupakan yaumul-farah was-surur (hari gembira/bahagia).
Imam al-Ghazali menyatakan dalam kitab Ihya.
Rasulullah menoleransi beberapa bentuk ekspresi
kegembiraan (hiburan) pada saat hari raya.
Misalnya, nyanyian, tarian Habasyah dan
penabuhan rebana. Sebagaimana pula lagu
Thala'al Badru & iringan musik rebana
Namun, makna hari raya dalam islam
tidak berhenti pd yaumul-farah was-surur
dalam arti yang dangkal.
Kebahagiaan yang dimaksud dalam islam
adalah kebahagiaan yang sejati.
kebahagiaan sejati di sini dapat kita
runut melalui berbagai latar belakang
keberadaan hari raya dalam islam.
Hari raya yang diakui dalam islam ada 2,
yaitu Idul fitri dan Idul Adha. umat islam
baru bisa merayakan hari raya pd tahun ke-2 hijriah.
saat itu mereka telah memiliki kekuatan
yang mandiri & bebas dari bayang-bayang
penindasan kaum Quraisy dengan adanya hijrah ke madinah.
Karena idul fitri & idul Adha ? karena
kedua hari tersebut sama-sama merupakan
momen yang paling tepat utk berhari raya.
Idul fitri terjadi setelah muslimin
melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
Sedangkan idul Adha terjadi di ujung akhir
pelaksanaan Ibadah haji, yakni setelah hari
ARAFAH yang merupakan perkumpulan
terbesar. umat Islam.
Idul Adha memiliki momen hari raya yang kental,
selain berada dalam rangkaian ibadah Haji, Idul Adha
juga diapit oleh hari Arafah & Tasyriq.
Kedua hari pengapit juga sama-sama
memiliki semangat hari raya. Arafah merupakan
hari pertemuan besar, jamaah haji dilarang berpuasa saat itu.
Selain di hari Arafah menjadi turunnya
ayat penyempurna dalam Islam.
Sedangkan hari Tasyriq merupakan hari
makan & minum (dilarang puasa)
sebagaimana ditegaskan Rasulullah dalam hadisnya.
Lalu apa yang dirayakan saat hari raya ?
mengenai hal ini tentu ada persepsi yang
bernacam-macam, tentunya dari kalangan SUFI.
komentar Ibnu Rajab-al-hambali
berikut ini sangat pas tuk menggambarkan hari raya
sebagai hari bahagia yang hakiki.
Hari fitri menjadi hari raya bagi seluruh umat,
karena pada saat hari itu para pelaku
dosa yang telah berpuasa dibebaskan dari Neraka.
sehingga mereka bisa bergabung dengan orang-orang
yang saleh. begitu pula, hari qurban
menjadi hari raya akbar, karena terjadi
setelah hari ARAFAH.
Hari Arafah merupakan hari yang paling
banyak terjadi pembebasan dari neraka. tidak
ada yang lebih banyak dari hari ARAFAH."
komentar Ibn Rajab.
Jadi kebahagiaan esensial saat hari raya
terkait erat dengan perkembangan MORAL-
SPRITUAL dari seseorang.
Apakah momen sebelum hari raya itu
telah memberikan perubahan positif
terhadap dirinya atau tidak.
Karena itu, Ibn Rajab menutup
komentarnya dengan kalimat indah berikut ini.
"Orang yang dibebaskan dari neraka pada dua
hari raya itu, maka dua hari itu baginya
menjadi hari raya.
Sedangkan orang yang tidak mendapatkan
pembebasan pada hari itu, maka dua hari itu
baginya menjadi hari ancaman."
Jadi, kalau hari raya mau disebut hari bahagia,
tentu makna & ekspresinya bukan
kegembiraan seperti yang dipahami
Masyarakat secara umum.
Boleh jadi hari raya itu di ekspresikan dengan
perasaan takut & perasaan susah yang
bersifat Ukhrawi.
Jadi, masing-masing orang memiliki
persepsi sendiri mengenai makna
kebahagiaan di hari raya.
SEMOGA BERMANFAAT. (end).
Langganan:
Postingan (Atom)

