Dari keagungan hari Sabtu di atas, orang Jawa
mempunyai sebuah keyakinan kalau ada Dukun yang ingin nyuwuk (suatu
istilah kusus bagi para dukun) niscaya jampe-jampenya tidak akan
terkabul alias ngobos.
Selain
hari Sabtu yang dimulyakan Allah, hari Ahad juga tidak kalah
pentingnya. Hari Ahad adalah hari yang digunakan untuk permulaan Allah
membuat dunia ini. Dari dua hari yang agung ini, orang Yahudi dan
Nasrani saling mengklaim bahwa dirinyalah yang merasa benar dan yang
lain dalam kondisi yang salah. Padahal sebenarnya merekalah yang salah.
Allah berfirman.
وقالت
اليهود ليست النصرى على شئ وقالت النصرى ليست اليهود على شئ وهم يتلون
الكتب كذلك قال الذين لا يعلمون مثل قولهم فالله يحكم بينهم يوم القيما
فيما كانوا فيه يختلفون
"Dan
orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai
suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi
tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al
Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan
seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka
pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya." (QS.
Al-Baqarah : 113.)
Meskipun
dalam kenyataannya, orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak rukun, akan
tetapi kalau dalam urusan dunia mereka bisa bersatu padu. Berbeda dengan
apa yang telah terjadi dengan sesama orang Islam. Banyak negara-negara
Islam yang mempunyai kekayaan yang berlimpah, namun mereka tidak saling
rukun. Contoh kecilnya, negara Islam adalah negara yang kaya akan hasil
tambang. Namun, kebanyakan kekayaan tersebut itu dikuasai oleh
orang-orang Yahudi dan Nasrani. Orang Yahudi dan Nasrani ini sebenarnya
adalah orang miskin. Mereka tidak punya kekayaan sebagaimana yang
dimiliki oleh negara-negara Islam. Namun, yang membuat mereka dapat
menjadi lebih unggul adalah, mereka mempunyai kemampuan teknologi yang
tidak dimiliki oleh negara Islam.
Lihatlah
negara Irak. Dahulu ia adalah negara yang kaya raya. Tapi, sekarang
Irak menjadi negara yang miskin. Hal ini disebabkan mereka dikuasai oleh
Amerika. Padahal kalau ditelusuri, negara yang adidaya itu kalau tidak
ada hubungan dengan negara-negara Islam, maka mereka akan menjadi lemah.
Islam mempunyai minyak yang dapat menghasilkan mobil-mobil mereka dapat
bergerak dan melaju. Mereka tidak bisa lepas dengan semua itu. Coba
banyangkan kalau mereka tidak mendapat bahan bakar dari negara Islam,
niscaya kendaraan mereka tidak akan bisa beroperasi.
Ironisnya,
negara Islam yang di dalamnya diberikan banyak kekayaan, banyak dari
sesama muslim tidak bisa menjaga kerukunan antar sesama muslim lainnya.
Mereka saling iri hati dengan saudaranya. Sehingga, dari sifat inilah
orang kafir mudah untuk menguasainya. Jika negara Arab Saudi minyaknya
laku, maka negara Islam yang lain akan iri hati. Begitu juga sebaliknya.
Lihatlah ketika ada
orang Cina mempunyai sebuah toko yang berjajar sebanyak 20 kios.
Masing-masing toko milik orang yang berbeda. Mereka sangat rukun dengan
urusan bisnisnya. Mereka tidak cekcok dengan yang lainnya. Berbeda kalau
kios itu milik orang Islam. Mereka antara satu sama yang lainnya saling
iri hati. Maka dari itu, marilah kita hilangkan sifat iri hati dan
dengki dari jiwa kita untuk menuju rida Allah. Sungguh jika sifat jelek
tadi bisa kita hilangkan, niscaya negara Islam bisa menjadi makmur
beserta dengan pengikutnya.
Perlu
diketahui bahwa sifat baik dan buruk itu adalah datangnya dari Allah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Ahlusunnah Wal Jamaah. Orang kafir yang
jelek, ketika di dunia diberi kekuatan oleh Allah untuk mengusai dunia.
Namun, kelak di akhirat, mereka akan menjadi abadi di dalam neraka.
Adapun orang Islam yang merupakan sebaik-baiknya makhluk Allah ketika
hidup di dalam dunia, mereka diuji dengan dijangkiti oleh penyakit iri
hati dan dengki dengan sesamanya. Sehingga, mereka tidak bisa mengusai
dunia. Namun, di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam
surga-Nya. Jalan menuju surga bagi orang Islam adakalanya mereka
terlebih dahulu mencicipi panasnya api neraka. Dan ada juga yang
langsung masuk tanpa melalui syarat dan rintangan.
Maksimal
orang berada di dalam neraka itu selama tujuh hari. Sebab, satu hari di
dalam neraka itu bagaikan seribu tahun di dunia. Dan jika orang-orang
tersebut lebih dari tujuh hari menginap di dalam neraka, maka neraka itu
adalah tempat tinggalnya yang abadi. Allah berfirman:
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ
بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ
رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (47
“Dan
mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah
sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi
Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu." (QS. Al-Haj : 47).
Orang yang ingin masuk
surga tanpa harus mencicipi panasnya api neraka terlebih dahulu, maka
dia tidak boleh mencintai dunia yang hina ini. Meraka yang dapat
mencapai derajat seperti ini adalah para kekasih Allah yang zuhud
terhapat dunia. Zuhud bukan berarti tidak punya dunia. Akan tetapi,
dunia tidak ia cintai. Orang zuhud yang kaya itu lebih baik dari pada
orang miskin yang mencintai dunia. Marilah kita umat Islam untuk tidak
menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Memang benar kita hidup di dunia
itu membutuhkan dunia, bahkan orang Fakir itu dapat mendekatkan manusia
kepada kekufuran sebagimana sabda Nabi Muhammad Saw.
عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم كاد الفقر أن يكون كفرا
"Dari
sahabat Anas Ra mengungkapkan bahwasanya Rasulullah Saw telah
bersabda,” Kefakiran itu mendekati kekufuran.” (Al-Hadist).
Meskipun
demikan, kita tetap harus mengutamakan kehidupan akhirat. Insyaallah
dengan menjalankan perintah Allah, dunia ini akan dilimpahkan kepada
umat Islam. Lakukanlah perintah Allah, misalnya mengerjakan salat,
niscaya Allah akan memberikan balasan yang berlimpah ruah.
Duhulu
ketika bangsa Indonesia yang mengerjakan salat cuma sedikit, kita
dijajah bangsa Belanda selama 350 tahun. Namun, ketika bangsa Indonesia
sudah banyak yang mengerjakan salat, kemakmuran sedikit demi sedikit
semakin bertambah hingga puncaknya pada tahun 2000 bangsa Indonesia yang
hampir seluruhnya memakan nasi semuanya. Padahal sebelumnya bangsa
Indonesia banyak yang makan Singkong dan Jagung.
Sungguh
kemakmuran ini sebenarnya milik orang Islam. Dalam urusan makan, umat
Islam diberi takaran minimalnya 25 kilo perbulan. Insyaallah, jika kita
mengerjakan syariat Islam sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh
Allah dan Rasul-Nya, maka kemakmuran yang luar biasa ini akan bisa kita
nikmati. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar